Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 05 Mar 2018 14:35 WIB

Mungkinkah Dolar Sentuh Rp 10.000 Seperti Prediksi 'Jokowi Effect'?

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Para analis sempat memprediksi, terpilihnya Joko Widodo (Jokowi) saat pemilu Presiden pada 2014 silam bisa memicu menguatnya nilai tukar (kurs) rupiah hingga ke level Rp 10.000 per US$. Namun hingga saat ini, prediksi tersebut tak kunjung terealisasi bahkan malah melemah hingga ke kisaran Rp 13.700-an.

Kepala Riset Ekuator Swarna Sekuritas David Sutyanto mengatakan, prediksi tersebut tak bisa terealisasi lantaran cateris peribus atau asumsi ekonomi yang dilakukan ekonom terbantahkan lantaran sejumlah asumsi yang diprediksi tetap sama malah berubah.


"Itu kan kita berikan klaim istilahnya cateris paribus, yaitu dengan anggapan variabel lain tidak berubah. Unexpected-nya (yang tidak diharapkan) kan yang terjadi, Donald Trump (jadi Presiden AS) dan the Fed jadi agresif. Itu yang menyebabkan target-target para analis kemarin itu tidak tercapai," katanya kepada detikFinance saat dihubungi, Senin (5/3/2018).

Dengan kondisi global yang dinamis seperti sekarang ini, David bilang akan sangat kecil kemungkinannya prediksi nilai tukar dolar bisa menyentuh angka Rp 10.000. Sentimen terbesar yang mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar adalah kebijakan ekonomi AS yang saat ini sangat agresif di bawah kepemimpinan Donald Trump.

"Begitu Donald Trump naik saja itu (prediksi) sudah tidak berlaku. Karena waktu itu anggapannya kan yang jadi Presiden AS adalah yang seperti Obama yang kebijakannya cenderung pasif. Sekarang kan kebijakannya ekspansif sekali untuk ke luarnya," jelas David.


David sendiri beranggapan nilai tukar rupiah terhadap dolar bisa bertengger di kisaran Rp 11.000 jika kebijakan ekonomi AS tak seagresif saat ini. Namun dengan kondisi yang ada saat ini, menurutnya rupiah bisa bertahan di kisaran Rp 13.000 dalam kondisi stabil.

"Tapi dengan kondisinya seperti sekarang ini, kalau kondisi semua mata uang global lemah terhadap US, saya tidak mengharapkan rupiah menguat sendirian. Menjadi anomali. Mau tidak mau, rupiah harus sejalan dengan mata uang yang lain," katanya.

"Kalau menurut saya, rupiah bisa stabil di level 13.000-an itu masih terjaga. Itu karena rupiah sendiri ada catatan karena The Fed yang mau naikkan suku bunga, jadi capital outflow juga terjadi," pungkasnya.

[Gambas:Video 20detik]

(eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed