Dolar AS Perkasa, Ekonom: Pemerintah Perlu Kasih 'Vitamin C'

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 26 Apr 2018 14:42 WIB
Foto: Selfie Miftahul Jannah
Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus berfluktuasi sejak awal 2018 ini. Hari ini (26/4) nilai tukar hampir menyentuh Rp 14.000 per dolar AS.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan penyebab pelemahan nilai tukar ini terjadi karena turunnya kinerja perekonomian di dalam negeri.

"Yang lebih penting lagi kinerja ekonomi domestik turun. Meskipun rating utang beberapa kali naik, tapi sebenarnya secara fundamental ekonomi masih kurang stabil," kata Bhima saat dihubungi detikFinance, Kamis (26/4/2018).


Dia menjelaskan, saat ini kepercayaan masyarakat atau konsumen cenderung mengalami penurunan, kemudian masyarakat menahan belanja. "Tahun politik ini juga menyebabkan ekspansi bisnis tertunda, akibatnya pertumbuhan ekonomi sulit tembus 5,4%," ujar dia.

Hal-hal tersebut menyebabkan investor akhirnya merombak total portofolio investasinya karena terjadi penurunan kepercayaan.

Menurut Bhima tugas Bank Indonesia (BI) dan pemerintah saat ini harus memberikan Vitamin C kepada pelaku pasar dan konsumen.

"Vitamin 'C' adalah Confidence atau kepercayaan untuk pelaku pasar, itu yang langka akhir-akhir ini di pasar," jelas dia.


Mengutip reuters, Kamis (26/4/2018), dolar AS pagi ini tercatat berada di Rp 13.910. Dolar semakin perkasa atas rupiah yang pada hari sebelumnya masih berada di Rp 13.890.

Pagi ini, dolar AS bergerak cukup agresif, bahkan sempat menyentuh Rp 13.930 pagi ini. (dna/dna)