Follow detikFinance
Rabu, 09 Mei 2018 22:50 WIB

Penjelasan Lengkap Sri Mulyani soal Surat Utang RI Sepi Peminat

Hendra Kusuma - detikFinance
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Hasan Alhabshy Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati angkat bicara tentang lelang surat utang negara yang sepi peminat. Salah satu penyebabnya adalah ketidakpastian global.

"Situasi hari ini memang sesuatu yang harus terus kita monitor secara sangat cermat perubahan yang terjadi hampir setiap hari dengan sinyal-sinyal yang dilakukan terutama dari negara maju," kata Sri Mulyani usai pelantikan 366 pejabat eselon III Kementerian Keuangan di gedung Dhanapala, Jakarta, Rabu (8/5/2018).

Ketidakpastian itu seperti kebijakan suku bunga The Fed yang akan naik. Ketidakpastian ini juga bukan hanya dirasakan oleh Indonesia sendiri, melainkan negara lain pun sama.


"Itu semuanya menimbulkan suatu sentimen yang kemudian bercampur dengan yang sekarang dihadapi di seluruh negara. Jadi kita melihat bahwa pada bulan April dan Mei ini adalah proses di mana banyak perusahaan membagikan dividennya sehingga ini memberikan demand terhadap berbagai sumber dana dalam rangka bayar dividen," ungkap dia.

Surat utang yang dilelang pemerintah ini sebenarnya untuk memenuhi pos pembiayaan yang sudah ditetapkan dalam APBN. Sri Mulyani mengatakan mengaku akan terus menjaga dan sudah mendapatkan pembiayaan yang melebihi kebutuhan sampai semester I-2018.


"Karena kita sudah melakukan front loading waktu itu cukup banyak, kita ambil dari global bond yang kita terbitkan sebelum tahun 2018, sekitar November lalu. untuk penerbitan global bond, saat ini sudah terpenuhi di semester I itu jauh melebihi yang dibutuhkan," jelas Sri Mulyani.

Meski demikian, Sri Mulyani tetap meneliti arah permintaan para investor guna memenuhi pembiayaan. Seperti saat ini, pemerintah telah mendapatkan pembiayaan program yang berasal dari institusi multilateral dan private placement sebagai salah satu alternatif apabila market dalam situasi yang tidak rasional.

"Jadi poin saya adalah pemerintah akan terus meneliti, melihat tingkah laku investor namun di sisi lain kita wajib mengingatkan bahwa fundamental ekonomi dari sisi pertumbuhan di atas 5%, defisit APBN mendekati 2% yang jauh di bawah tresholdnya UU maupun negara lain," kata dia.


Sedangkan dari sisi imbal balik atau yield surat utang negara, dia bilang akan terus membuat struktur ekonomi nasional lebih kuat dan tetap memberikan dampak baik pada investor.

"Kita akan terus meningkatkan komunikasi dengan mereka, dengan investor. Dengan para primary dealer, untuk melihat bahwa sebetulnya situasi apa yang dihadapi seperti apa dan apa yang bisa disesuaikan dari kita," papar dia.

Diketahui, lima seri surat utang negara yang dilelang pemerintah berlangsung kurang bergairah. Dari lima seri obligasi yang dilelang total penawaran yang masuk sebesar Rp 7,19 triliun. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed