Follow detikFinance
Rabu, 11 Jul 2018 15:16 WIB

Gubernur BI Pede Rupiah Masih Bisa Menguat Lawan Dolar AS

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Lamhot Aritonang Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bisa menguat. Ini dikarenakan mata uang negeri Paman Sam kemahalan atau over valued.

Hal itu diungkapkan oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Dia mengatakan, otoritas moneter nasional bakal terus menjaga stabilitas dengan menyesuaikan kondisi fundamentalnya.

"Sehingga dari sisi fundamentalnya mestinya ada ruang untuk lebih apresiatif lagi," kata Perry.


"Artinya sebenarnya rupiah itu masih ada potensi untuk menguat," tambah dia.

Nilai rupiah yang saat ini masih melemah terhadap dolar AS dikarenakan faktor eksternal. Namun, dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya depresiasi mata uang garuda lebih rendah dibandingkan India, Filipina, bahkan dengan Brasil, Korea Selatan, dan Turki.

"Ini yang kami tegaskan bahwa nilai tukar itu relatif terkendali dan kami nyatakan kembali komitmen BI untuk terus jaga stabilitas ekonomi khususnya stabilitas nilai tukar," papar dia.


BI Klaim Langkahnya Naikkan Bunga Acuan Tepat Redam Dolar AS

Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini dikarenakan langkah kebijakan yang diambil Bank Indonesia (BI) serta pemerintah sudah tepat. Meskipun saat ini mata uang negeri Paman Sam kembali menguat.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan langkahnya menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25% mampu mendorong stabilitas nilai rupiah.

"Alhamdulillah kondisi pasar keuangan kita khususnya nilai tukar rupiah tambah stabil ini menunjukkan bahwa langkah-langkah kebijakan kita, tidak hanya BI tapi koordinasi dengan pemerintah itu langkah-langkah yang tepat," kata Perry.

Perry menilai kenaikan suku bunga BI 7 Days Reverse Repo Rate menjadi 5,25% membuat pasar keuangan dalam negeri menjadi kompetitif, khususnya pasar surat berharga negara (SBN) yang beberapa waktu lalu dinilai membawa arus modal asing keluar.

"Itu menjadi satu poin positif yang memang mendorong stabilitas nilai tukar," jelas dia.


Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Perry menuturkan bahwa BI akan terus melakukan koordinasi dengan pemerintah dalam membuat bauran kebijakan, antara fiskal, reformasi struktural, dan dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Koordinasi terus dilakukan untuk tidak hanya memperkuat dari transaksi berjalan kita tapi juga mendorong pertumbuhan dan itu menjadi satu poin penting," ungkap dia.

Tidak hanya di situ, lanjut Perry, otoritas moneter nasional juga akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan ekonomi dengan berbagai instrumen.

"Dengan berbagai instrumen-instrumen yang ada yang kemarin sudah kami keluarkan dan akan terus kita optimalkan ke depan," jelas dia. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed