Follow detikFinance
Jumat, 20 Jul 2018 21:15 WIB

Rupiah Melemah Karena Pengaruh dari Luar, Pemerintah Pasrah?

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Lamhot Aritonang Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah terus menguat, bahkan nilainya sudah tembus ke level Rp 14.500. Data dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pagi ini dolar AS tercatat Rp 14.520.

Bank Indonesia (BI) dan pemerintah pun selalu menyebut biang keladi pelemahan rupiah terhadap dolar negeri Paman Sam ini karena sentimen negatif dari global, seperti dampak perang dagang antara AS dengan China, lalu depresiasi Yuan yang dilakukan beberapa hari belakangan ini. Lalu apakah BI dan pemerintah pasrah?

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan, otoritas moneter dan pemerintah terus melakukan upaya untuk menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Kan pemerintah sudah melakukan effort jangka panjang. Ini kan CAD, ekspor impor barang jasa defisit, pemerintah lakukan effort jangka panjang untuk meningkatkan eskpor, memberikan insentif pajak untuk eskpor, pemerintah mendorong pariwisata, itu effort akan kelihatan di jangka menengah panjang," kata Mirza di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (20/7/2018).


Menurut Mirza, langkah BI yang menaikkan suku bunga BI 7 Days Reverse Repo Rate juga menjadi upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Intinya BI melihat bahwa BI sudah menaikkan 100 bps dan pasar keuangan Indonesia sudah cukup menarik dilihat dari interest rate, terhadap India kita sudah lebih baik, kalau dilihat dari fair value dari rupiah juga sekarang sudah menarik, tapi memang situasi globalnya masih tekanan di negara-negara emerging market," papar dia.

Tidak hanya itu, Mirza juga mengungkapkan pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi pada rupiah, melainkan banyak diamali oleh mata uang negara-negara berkembang lainnya.

Negara berkembang yang mata uangnya melemah, Afrika Selatan, Chili, Meksiko, Polandia, India, Brasil, Argentina, dan Turki.

"Semua pelemahannya bahkan lebih dalam dari Indonesia. Jadi nggak harus terlalu jadi issue ya," ujar dia. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed