PSSI Beli 6 Kapal Kargo, Buat Apa?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 23 Mar 2020 18:11 WIB
Pelita Samudera Shipping beli kapal MV
Ilustrasi/Foto: Dok. PSSI
Jakarta -

PT Pelita Samudera Shipping Tbk (PSSI) sepanjang 2019 membeli kapal kargo curah (MV) sebanyak 6 unit. Penambahan kapal ini untuk meningkatkan kapasitas kargo menjadi 237, 5 ribu DWT atau naik 277% dari tahun sebelumnya 63 ribu DWT.

Sekretaris Perusahaan Imelda Agustina Kiagoes menjelaskan perseroan juga melakukan penambahan 3 unit Kapal Tunda dan Tongkang (TNB) menambah total armada sampai akhir 2019 sebanyak 87 unit termasuk 3 unit Fasilitas Muatan Apung (FLF).

Total kapasitas pengangkutan menjadi 546,1 ribu metrik ton, meningkat sebesar 55% dari 352,5 ribu metrik ton di 2018. Ditengah tantangan harga batubara thermal, total volume pengangkutan berhasil mencapai 96% dari target 2019 atau sebesar 30,2 juta metrik ton. Kenaikan terbesar dari segmen MV sebesar 277% menjadi 1,1 juta metrik ton dari 280,2 ribu metrik ton di 2018.

Sejalan dengan penambahan armada, biaya operasional mengalami peningkatan termasuk konsumsi bahan bakar, suku cadang dan biaya kru kapal, namun berkat pengendalian biaya yang berkelanjutan, marjin laba bruto sebesar 25% berhasil dicapai. Kenaikan laba bruto sebesar US$ 2,8 juta menjadi US$ 19,1 juta dari US$ 16,3 juta di 2018 atau naik sebesar 17%.

Pendapatan Usaha sebesar US$ 75,3 juta, lebih tinggi US$ 11,8 juta atau 19% dibandingkan tahun sebelumnya. Perseroan berhasil meningkatkan tarif muatan apung dan pengangkutan menjadi US$ 2,49 dari US$ 1,90 per metrik ton di 2018 atau naik sebesar 31,2%.

"Pendapatan muatan apung dan pengangkutan naik US$ 3,9 juta atau sebesar 7%. Pendapatan Sewa Berjangka naik signifikan sebesar 304% menjadi US$ 9,9 juta dari US$ 2,4 juta di 2018," kata dia dalam siaran pers, Senin (23/3/2020).

Perseroan membelanjakan US$ 50,1 juta dari target anggaran belanja modal 2019 sebesar US$ 61,3 juta. Realisasi capex sebesar 82% sebagian besar untuk pembelian 4 unit MV, 1 unit Tugboat dan 2 unit Tongkang termasuk perbaikan dan pemeliharaan kapal (docking). Peningkatan Aset sebesar 30% menjadi US$ 143,2 juta dari US$ 110,1 juta di 2018. Ekspansi armada kapal sebagian besar menggunakan kas internal disamping pinjaman bank.

Segmen TNB menyumbang 51% dari total EBITDA diikuti FLF 30% dan MV 19%. Komposisi kontrak jangka panjang FLF mencapai 91%, TNB 74% dengan 9% dan 26% spot basis. Dari total 6 unit MV, 3 unit mendapatkan kontrak jangka panjang Sewa Berjangka untuk pengangkutan batubara dan komoditas lain di nikel, klinker dan produk besi. Perseroan akan terus mengeksplor target diversifikasi bisnis di luar komoditas batubara termasuk segmen MV dan TNB.

Laba bersih perseroan tercatat sebesar US$ 11,3 juta atau kenaikan sebesar 44% dari US$ 7,9 juta di 2018. Pendapatan Lain-Lain di 2018 terdapat keuntungan penjualan 1 unit FLF sebesar US$7,6 juta. Pasca divestasi 1 unit FLF berhasil menaikkan utilisasi 3 FLF yang lain di 2019. Total Laba Bersih Tahun Berjalan sebesar US$ 13,3 juta. Dengan peningkatan keunggulan operasional, pengendalian biaya dan efisiensi serta strategi ekspansi armada, pencapaian marjin Laba Bersih sebesar 18%.

Struktur Permodalan terjaga dengan baik, Rasio Hutang terhadap Aset dan Rasio Hutang terhadap Ekuitas sebesar 28% dan 45% per 31 Desember 2019, meningkat dari tahun sebelumnya dengan adanya pinjaman bank yang sebagian besar untuk ekspansi armada kapal.

Jumlah Ekuitas meningkat sebesar 23% menjadi US$ 88,6 juta dari US$ 71,7 juta di 2018 dengan kenaikan Saldo Laba (Retained Earnings) sebesar US$ 10,8 juta atau 48% dan tambahan Modal Disetor sebesar US$ 3,3 juta atau 143%.

"Di tengah tantangan pandemi Covid-19, tanggap dengan Perencanaan Kontinuitas (Business Continuity Plan), Perseroan memastikan bisnis inti dan kesinambungan operasi tetap terjaga dengan terus melakukan tindakan pencegahan dan eksekusi strategi yang tepat untuk kelangsungan bisnis," ujarnya.



Simak Video "Kapal Kargo Terbalik, Ribuan Domba Tenggelam"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/ara)