Dolar AS Diramal Terus Turun, Bisa Capai Posisi Terendah Sejak 2018

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 22 Sep 2020 08:40 WIB
Seorang petugas menata uang dollar di Jakarta, Senin (30/6/2014). Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat terhadap rupiah sehingga mendorong minat masyarakat untuk berburu mata uang negeri Paman Sam ini.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Kala pasar saham Amerika Serikat sedang terseok-seok, mata uang dollar ikut melemah selama enam minggu. Lembaga keuangan Brown Brothers Harriman (BBH) memperkirakan Indeks dollar AS bisa merapat ke posisi terendah alias posisi pada Februari 2018. Langkah tersebut akan menyiratkan penurunan sekitar 5% dari level saat ini.

"Sejak pandemi benar-benar meningkat pada bulan Maret, kami telah melihat penguatan dollar dari serangan-serangan yang beresiko. Tapi sungguh, keuntungan itu tidak bertahan lama," kata Kepala Ahli Mata Uang Global BBH Win Thin, dilansir dari CNBC, Selasa (22/9/2020).

"Hambatan sedang menerpa dollar dan ekonomi AS. Jadi, saya pikir pemulihan mungkin akan didorong hingga awal 2021," pungkasnya.

Sentimen paling kuat yang mendorong lesunya dollar adalah memperhitungkan kebangkitan kasus virus Corona yang belum surut. Belum lagi anggapan bahwa anggota parlemen tidak akan meloloskan paket stimulus kedua sebelum pemilihan presiden pada bulan November.

"Peluangnya turun drastis. Kami melihat kelesuan dalam data ekonomi AS karena stimulus habis. Bagi saya, itu semua mendorong angka negatif kepada dollar," kata Win.

Terlepas dari prediksinya yang melemah, Win tidak mengatakan dollar berjuang jangka panjang saat ini. Dia mengatakan semua masalah siklus untuk perkiraan kelemahannya, bukan struktural.

Sementara itu, selama enam minggu dollar sudah turun sebanyak 9% nilainya. "Kurasa kita belum sampai di sana," kata Win.

(fdl/fdl)