Yuan Keok 'Lawan' Dolar AS, Ini Penyebabnya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 12 Okt 2020 22:40 WIB
Business woman holding stack of 100 yuan banknotes money. Chinese yuan currency
Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta -

Langkah bank sentral China (People's Bank of China) mengubah kebijakan persyaratan cadangan menjadikan nilai mata uang Yuan melemah. Dilansir dari Reuters, Senin (12/10/2020), Bank Sentral China dinilai sengaja menahan kenaikan nilai Yuan, apalagi setelah mencapai level tertinggi selama 17 bulan pada Jumat lalu.

Sementara itu, indeks dolar AS naik dari posisi terendah selama tiga minggu di tengah harapan untuk stimulus fiskal. Yuan nilainya turun 0,8% terhadap Dolar AS. Bank sentral China mengatakan pada hari Sabtu pihaknya menurunkan rasio persyaratan cadangan untuk lembaga keuangan ketika melakukan perdagangan valuta asing ke depan.

Langkah bank sentral China tersebut akan mempermudah untuk menahan kenaikan Yuan.

"Ini ditafsirkan sebagai sinyal halus dari bank sentral China untuk menahan kecepatan kenaikan yuan, tetapi seberapa banyak pengekangan akan menjadi lebih jelas dengan penetapan harian yang akan datang," kata kepala RBC Asia FX, Alvin Tan

Ahli strategi keuangan HSBC mengatakan perubahan kebijakan tidak mungkin membalikkan tren penurunan Dolar-Yuan. Ahli strategi Goldman Sachs juga menulis mereka terus mengharapkan Yuan yang lebih kuat, pasalnya pertumbuhan China solid dan perbedaan suku bunga yang menguntungkan dengan Amerika Serikat. Langkah Bank Sentral China tersebut juga dinilai menjadi penyebab melemahnya dolar Australia yang sensitif terhadap China.

(hns/hns)