Jangan Buru-buru Beli Saham Produsen Vaksin COVID-19, Ini Sebabnya

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 15 Okt 2020 15:59 WIB
The doctor prepares the syringe with the cure for vaccination.
Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta -

Para ahli memperingatkan investor untuk tidak terburu-buru membeli saham perusahaan farmasi dan bioteknologi yang membuat vaksin COVID-19. Sebab saat ini sejumlah produsen vaksin menghentikan proses uji klinisnya.

Dikutip dari CNN, Kamis (15/10/2020) perusahaan farmasi raksasa Johnson & Johnson (JNJ) baru-baru ini mengumumkan harus menghentikan uji coba vaksinnya setelah seorang sukarelawan jatuh sakit. Perusahaan obat multinasional Inggris AstraZeneca terpaksa menghentikan uji coba bulan lalu.

Pekan ini, Eli Lilly pembuat antibodi yang diberikan kepada Presiden AS Donald Trump saat positif COVID-19 juga menghentikan uji klinisnya.

Melihat kendala yang dialami produsen vaksin COVID-19 artinya pembuat vaksin dan bioteknologi bekerja dengan tergesa-gesa untuk mencoba membuat vaksin atau pengobatan COVID-19.

Pendiri Biotech Tader Kyle Dennis, mencatat sebagian besar pembuat vaksin pada akhirnya akan memiliki kontrak yang dinegosiasikan dengan pemerintah. Jadi menurut Dennis, vaksin mungkin tidak akan menjadi penghasil pendapatan atau keuntungan yang besar.

Investor juga harus waspada terhadap saham vaksin dan pengobatan COVID-19 yang baru-baru ini melonjak. Seperti Regeneron sahamnya naik lebih dari 60% tahun ini. Moderna dan bioteknologi kecil Inovio masing-masing naik sekitar 300% tahun ini. Selain itu, saham Novavax telah meroket 2.840% dari sekitar US$ 4 pada awal tahun 2020 menjadi US$ 117.

Pakar investasi bioteknologi dari The Cancer Immunotherapy ETF dan The China BioPharma ETF Brad Loncar mengatakan untuk saat ini dia sangat skeptis dengan apa yang terjadi di tengah pandemi COVID-19. Terutama kenaikan saham perusahaan farmasi yang terlalu tinggi.

Loncar setuju dengan Dennis bahwa sedikit perusahaan perawatan kesehatan akan menghasilkan pendapatan jangka panjang yang signifikan dari vaksin atau pengobatan COVID-19.

Investor mungkin juga perlu lebih fokus pada penyakit lain. Loncar mencontohkan bahwa dirinya berinvestasi di perusahaan Moderna dan BioNTech yang tengah membuat saluran pipa untuk obat kanker. Dia juga memiliki saham Gilead Sciences (GILD), yang obat remdesivir yang juga telah digunakan untuk mengobati COVID-19.

Dennis juga sepakat mengatakan investor harus lebih fokus pada kanker dan penyakit parah lainnya daripada COVID-19. Ia merekomendasikan investor membeli saham bioteknologi TG Therapeutics, Karyopharm Therapeutics, dan Global Blood Therapeutics.

(ara/ara)