Biden Ungguli Trump, Wall Street Makin Perkasa

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 06 Nov 2020 09:21 WIB
Pusat bisnis di New York, Wall Street terlihat kosong melompong sebagai dampak
 pandemi Covid-19, Minggu (29/3/2020).
Foto: Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency
Jakarta -

Calon Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden masih mengungguli Presiden Donald Trump di perhitungan suara. Menurut data The Associated Press (AP), Biden telah memperoleh 264 electoral votes, dan hanya butuh 6 electoral votes lagi untuk menang. Sementara, Trump masih di angka 214 electoral votes.

Dilansir dari CNN, Jumat (6/11/2020), meski perhitungan suara belum usai, namun Bursa Saham AS atau Wall Street sudah menunjukkan responsnya. Sepekan ini, Wall Street terus menguat, dan menjadi pekan terbaik bagi bursa AS sejak April 2020 lalu.

Melihat kondisi ini, investor dinilai memiliki harapan besar agar Biden mengambil alih Gedung Putih. Di sisi lain, Partai Republik akan mempertahankan posisi Senat. Kombinasi itu dinilai akan membentuk kebijakan yang moderat bagi AS, lalu juga akan mempercepat stimulus dari pemerintah, dan diiringi kenaikan pajak yang terbatas.

Indeks saham Dow (INDU) ditutup naik 2% atau 543 poin, sementara S&P 500 (SPX) naik 1,9%. Nasdaq Composite (COMP) juga naik 2,6%.

Secara akumulasi, sepekan ini ketiga indeks saham itu menunjukkan kondisi terbaiknya sejak bulan April.Indeks saham Dow naik lebih dari 7% selama satu pekan ini. Lalu S&P 500 telah meningkat hampir 8%, dan Nasdaq telah melonjak 9%.

Tentunya, kondisi ini jauh berbeda ketika bulan Maret, di mana Wall Street mengalami 'roller coaster'. Pasalnya, kala itu investor masih mengkhawatirkan hasil pemilu dan meningkatnya kasus COVID-19.

Dari sisi lapangan kerja, Departemen Tenaga Kerja melaporkan, realisasi tunjangan pengangguran menurun, begitu juga pada realisasi bantuan pengangguran selama pandemi (Pandemic Unemployment Assistance) yang ditujukan bagi wiraswasta, dan lain-lain yang mencapai 1,1 juta. Angka realisasi itu stagnan selama beberapa minggu terakhir.

Selain itu, jumlah pekerja dalam program kompensasi darurat bagi pengangguran selama pandemi (Pandemic Emergency Unemployment Compensation program) telah terealisasi hampir 4 juta warga AS. Namun, angka itu berarti pengangguran di AS masih tinggi, dan jumlah pekerja belum pulih.

(eds/eds)