Investor Masih Tancap Gas Borong Saham, Corona Nggak Ngaruh?

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 17 Nov 2020 10:26 WIB
Traders work on the trading floor on the final day of trading for the year at the New York Stock Exchange (NYSE) in Manhattan, New York, U.S., December 29, 2017. REUTERS/Andrew Kelly
Ilustrasi/Foto: Reuters
Jakarta -

Belakangan ini pasar saham bergerak di luar ekspektasi. Optimisme investor terhadap vaksin Corona telah mengalahkan kekhawatiran tentang lonjakan kasus COVID-19.

Dengan begitu menandakan investor merasa lebih rakus atau serakah lagi daripada takut. Dalam istilah investasi saham, ada dua sifat yang mempengaruhi kesuksesan seorang investor yakni ketakutan (fear) dan keserakahan atau rakus (greed).

Dilansir CNN, Selasa (17/11/2020), baru-baru ini melakukan survei mengenai The Fear & Greed Index atau indeks ketakutan dan keserakahan bisnis yang mengukur tujuh indikator bagi investor. Hasilnya, menyatakan investor berada di zona keserakahan atau rakus, bahkan levelnya tidak jauh dari tingkat keserakahan ekstrem.

Adapun ketujuh indikator yang masuk dalam survei adalah, volatilitas pasar, pemilihan presiden (pilpres) AS, momentum, permintaan obligasi 'sampah', volume perdagangan, permintaan investasi aman atau safe haven, dan saham tertinggi vs terendah.

Sebanyak tujuh indikator yang diukur ini memiliki bobot dan ukuran yang sama. Skor agregat dari pembobotan dikompilasi menjadi satu skor fear & greed yang berkisar dari 0 sampai 100. Angka yang lebih rendah menunjukkan ketakutan dan angka lebih tinggi menunjukkan keserakahan.

Konteksnya adalah pada saat indeks utama pasar saham AS turun 10% pada Maret akibat pandemi Corona atau saat Presiden AS Donald Trump mengumumkan lockdown.

Hasil survei fear & greed menunjukkan di zona keserakahan karena investor sangat berharap dengan vaksin COVID-19 yang mampu membuat perekonomian kembali normal.

(hek/ara)