Saham Perusahaan Ganja Melonjak Gara-gara Joe Biden

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 27 Nov 2020 10:52 WIB
ganja
Ilustrasi/Foto: thinkstock
Jakarta -

Saham perusahaan ganja di Amerika Serikat (AS) melonjak saat transisi pemerintahan Presiden terpilih AS Joe Biden. Lonjakan ini disebut dari dorongan ekspektasi orang AS yang berharap pemerintahan Biden akan melonggarkan peraturan terkait ganja.

Mengutip CNN, Jumat (27/11/2020) saham Canopy Growth naik 6%, Aurora Cannabis melonjak 25%, dan Tilray (TLRY) melonjak 14% di awal perdagangan. Saham ganja lainnya juga bergerak naik termasuk raksasa ganja global Curaleaf, Aphria, dan Cronos yang memiliki investasi besar dari raksasa tembakau dan pemilik Marlboro Altria.

Melonjaknya saham-saham perusahaan ganja juga dipicu oleh harapan akan banyak negara bagian AS yang melegalkan penjualan ganja untuk rekreasi.

Seperti awal bulan ini negara bagian AS, Arizona, Montana, New Jersey, dan South Dakota telah melegalkan penggunaan ganja untuk orang dewasa, sehingga jumlah total negara bagian yang telah melegalkan ganja menjadi 15.

Para eksekutif industri ganja secara terbuka menyatakan kebahagiaan saat Biden terpilih. CEO Canopy David Klein sangat optimistis industri ganja akan meningkat di bawah pemerintahan Biden.

"Kami yakin kemenangan Biden merupakan langkah penting menuju izin federal atas ganja di pasar AS melalui dekriminalisasi dan penjadwalan ulang," kata Klein.

Terlepas dari optimisme itu, industri ganja ini masih akan menghadapi hambatan di tingkat federal, terutama jika Partai Republik mempertahankan mayoritas Senat mereka setelah pemilihan umum Georgia pada Januari. Senat yang dipimpin oleh Republikan Mitch McConnell akan membuat langkah-langkah legislatif ganja akan tetap mati, bahkan di bawah pemerintahan Biden.

Jika itu terjadi, hal itu jadi kabar buruk bagi industri ganja. Sejauh ini pengusaha tidak mudah melakukan transaksi bank atau memperoleh pembiayaan lainnya karena mereka tunduk pada undang-undang pajak tahun 1980-an yang dirancang untuk menghukum para pengedar narkoba.

Selain itu, pengusaha ganja juga kesulitan dalam mengasuransikan bisnis mereka, dan tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan dari federal AS.

(ara/ara)