Gara-gara Kabar Virus Corona Baru, Bursa AS Tiarap

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 23 Des 2020 08:50 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu disuntik vaksin Pfizer-BioNTech. Ia dan Menteri Kesehatan Israel diketahu jadi yang pertama disuntik vaksin COVID-19 di negara itu.
Foto: AP Photo/AMIR COHEN
Jakarta -

Kemunculan varian baru dari virus Corona di Inggris dan sejumlah negara lainnya menyebabkan kekhawatiran secara global. Kekhawatiran itu pun menimbulkan sentimen negatif pada investor, terutama di bursa Amerika Serikat (AS), sejumlah indeks pun tiarap.

Padahal, Kongres AS baru saja akan mengesahkan paket stimulus pandemi baru yang telah lama dinantikan. Stimulus baru itu mencapai US$ 892 miliar atau sekitar Rp 12.755 triliun (kurs Rp 14.300) yang diharapkan dapat menopang perekonomian setelah selama ini berada di bawah tekanan pandemi Corona.

Indeks saham S&P 500 ditutup lemah semalam dengan angka kehilangan 7,66 poin, atau 0,21% menjadi 3.687,26. Salah satu perusahaan dalam indeks tersebut yakni Tesla Inc turun 1,5%, sehingga memperpanjang penurunannya pada hari kedua sebagai konstituen S&P 500.

Amgen Inc turun 2,8% setelah hasil yang mengecewakan dari uji klinis tahap akhir atas obat asma yang dikembangkan dengan AstraZeneca Plc.

Tak hanya S&P 500, Dow juga ditutup lemah. Dow Jones Industrial Average turun 200,94 poin, atau 0,67% menjadi 30.015,51.

Di sisi lain, Nasdaq Composite naik 65,40 poin, atau 0,51%, menjadi 12.807,92. Kenaikan itu disebabkan oleh aksi jual di saham Apple sehingga naik 2,8%.

Peloton Interactive Inc juga melonjak 11,6% karena investor menaikkan target harga mereka pada saham menyusul pengumuman perusahaan bahwa mereka akan membeli rekan Precor dalam kesepakatan senilai US$ 420 juta.

Secara keseluruhan, Senior Market Strategist LPL Financial Ryan Detrick menggambarkan seolah-olah perdagangan kemarin seperti tarikan napas panjang dari bursa AS.

"Hari ini pasar sedang menarik napas," kata Detrick, dilansir dari Reuters, Rabu (23/12/2020).

Di AS, pandemi Corona kian merebak, dan telah menginfeksi 214.000 orang. Kondisi ini menimbulkan pembatasan kembali di sejumlah aktivitas. Kapasitas rumah sakit (RS) pun semakin terbatas.

Di sisi lain, kabar mengejutkan datang dari Inggris yang menemukan varian baru virus Corona yang dinamakan VUI-202012/01. Varian itu dilaporkan 70% lebih menular dibandingkan dengan virus aslinya. Sejumlah negara pun merespons dengan menutup semua akses dari dan ke Inggris.

Hal ini juga menimbulkan kekhawatiran bagi para produsen vaksin Corona. Seperti Pfizer dan Moderna, di mana kedua perusahaan itu sedang berupaya memastikan vaksin mereka juga efektif melawan virus baru tersebut.

(zlf/zlf)