IHSG Dikawal Biar Nggak Terpuruk Lagi Tahun Depan, Caranya?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 30 Des 2020 16:26 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5% ke level 4.891. Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham siang ini.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menceritakan kembali masa kelam atau posisi terendah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama pandemi COVID-19 tahun ini. Masa terkelamnya itu ketika IHSG anjlok ke level 3.937 pada 24 Maret 2020 lalu.

"Pemutusan rantai penyebaran COVID-19 dengan pemberlakuan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 telah memukul sektor riil, kehidupan kita semua harus berubah dan ini berimbas secara langsung maupun tidak langsung kepada pengusaha. Dan akhirnya menurunkan kinerja para emiten kita. Dan berdampak pada turunnya IHSG kita, yang kita tahu sempat menutup di level paling rendah di 24 Maret 2020, yaitu 3.937," kata Wimboh dalam acara penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2020 yang digelar virtual, Rabu (30/12/2020).

Ia pun berharap masa kelam itu tak terjadi lagi di Indonesia. "Sehingga ini harus kita catat di dalam pikiran kita, itulah titik terendah pasar saham Indonesia dalam masa-masa beberapa tahun terakhir," tegas dia.

Menurut Wimboh, untuk mencegah IHSG kembali ke masa kelamnya itu, maka ada yang harus dilakukan oleh para pemangku kepentingan.

"Seluruh pemangku kepentingan dan seluruh jajaran harus mengambil kebijakan yang di luar kebiasaan untuk menghadapi ini, untuk bisa bertahan pada awalnya, dan kemudian bangkit," imbuhnya.

Wimboh juga membeberkan beberapa hal yang dilakukan demi mencegah IHSG terjun lagi ke jurang keterpurukan.

"Di antaranya pelarangan short-selling, pemberlakuan trading halt untuk penurunan sampai 5%, dan asymmetric auto rejection dalam pemendekan jam perdagangan bursa, dan buyback saham oleh emiten tanpa melakukan RUPS dalam kondisi pasar yang fluktuasi kayak kemarin itu," ujarnya.

Tak lupa dengan relaksasi pasar modal di antaranya memperbolehkan aktivitas atau transaksi bisnis dilakukan secara elektronik.

"Misalnya RUPS. Perusahaan terbuka melalui elektronik. Relaksasi penyampaian dan masa berlakunya laporan keuangan, serta pemberian insentif program biaya oleh self-regulatory organization," tutur Wimboh.

Begitu juga dengan kemudahan pelaporan dan perizinan bagi pelaku pasar modal dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi seperti penggunaan tanda tangan elektronik pada proses perizinan, dan penyampaian laporan secara elektronik.

Seiring berjalannya waktu, ia mengatakan kinerja IHSG perjalan pulih. Buktinya, pada 29 Desember kemarin, IHSG ditutup di level 6.036,17. Meski masih mengalami kontraksi 4,18% secara year to date (YTD), namun jauh lebih baik ketimbang masa kelam di Maret lalu itu.

"Namun, ini lebih baik dengan kenaikan sebesar 53,7% dibandingkan level terendah pada 24 Maret lalu," tutur Wimboh.

(hns/hns)