Saham KAEF Merosot, Sentimen Vaksin dan Influencer Tak Lagi Ampuh?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 06 Jan 2021 17:29 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mengalami pertumbuhan pesat selama pandemi virus Corona (COVID-19). Sentimen program vaksinasi pemerintah yang akan dijalankan BUMN farmasi menjadi pemicu utama mengapa saham KAEF melejit.

Namun, di perdagangan hari ini, saham KAEF berbalik arah dari tren kenaikannya. Saham KAEF pada perdagangan hari ini tercatat turun 265 poin atau 5,17% ke posisi Rp 4.860 per lembar.

Menurut Direktur Research & Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, kinerja saham KAEF memang masih rapuh karena tingginya ekspektasi dan harapan.

"Nah minggu depan kan apalagi akan ada pengetatan kembali, lockdown, satu hal yang menjadi perhatian adalah bahwa ternyata Presiden Jokowi juga akan disuntik vaksin minggu depan. Ini pun menjadi suatu harapan yang baru. Tapi balik lagi, kalau kita kaitkan dengan situasi dan kondisi di awal. Market bergerak berdasarkan ekspektasi dan harapan. Artinya apa? Rapuh," kata pria yang kerap disapa Nico tersebut kepada detikcom, Rabu (6/1/2021).

Nico menerangkan, melonjaknya saham KAEF sejak pertengahan tahun lalu memang karena sentimen dari kabar-kabar vaksinasi. Namun, ketika berita itu sudah sirna, maka tak bisa dipastikan saham KAEF akan bertahan di posisi tinggi.

"Ketika bicara ekspektasi dan harapan, berarti bicara asupan-asupan sentimen positif. Kalau sentimen positif itu nggak ada, bubar pasarnya," imbuhnya.

Meskipun KAEF kerap dibahas oleh influencer di media sosial, kembali lagi, sentimen lah yang memegang kendali.

"Sejauh ini kan masih driven by ekspektasi. Akan ada pemulihan, lho. Karena akan ada penyuntikkan. Makanya kembali lagi, kalau ditanya bagaimana saham KAEF nanti ke depannya? Nggak peduli mau di-endorse siapa pun, semuanya terkait dengan sentimen berita," tegasnya.

Melengkapi Nico, Analis CSA Research Institute Reza Priyambada menilai, program vaksinasi ini justru harus dilihat lebih dalam lagi dampaknya pada kinerja perusahaan. Pasalnya, BUMN farmasi akan menjalankan program vaksinasi yang digratiskan untuk masyarakat. Sehingga, belum dapat dijamin apakah biaya-biaya yang diperlukan untuk vaksinasi sudah tersedia sepenuhnya, dan tak akan mengganggu keuangan perusahaan.

"Apakah nantinya KAEF menjadi leading dalam penyediaan vaksin? Lalu yang bayar siapa? Apalagi vaksin gratis, masyarakat nggak perlu bayar. Tapi biaya produksi vaksin siapa yang bayar? Itu kan belum ada kejelasan, dan bisa berpengaruh terhadap cash flow KAEF. Nanti kasihan perusahaan BUMN Farmasi, mereka harus menanggung biaya. Lalu pasrah, dan ujung-ujungnya menarik surat utang," kata Reza ketika dihubungi secara terpisah.

Ia pun menyamakan kondisi saat ini dengan periode pertama Presiden Jokowi menjabat. Kala itu, Jokowi yang menggencarkan proyek infrastruktur membuat saham-saham BUMN Karya selaku kontraktor melejit. Namun, ketika proyek berjalan ternyata proyek tersebut juga meningkatkan utang perusahaan.

"Belakangan baru ketahuan bahwa program pembangunan infrastruktur itu sifatnya ekspektasi. Dan utang perusahaan dianggap turut berpartisipasi dalam proyek tersebut. Ini akhirnya membuat utang perusahaan konstruksi langsung naik. Ini yang saya khawatirkan seperti itu. Di mana pemerintah gencar mengumumkan vaksin, tapi kemudian efeknya karena ada misinformasi antara yang disampaikan pemerintah dengan pelaku pasar, akhirnya pelaku pasar timbul persepsi sendiri," ujarnya.

Oleh sebab itu, menurut Reza saham KAEF memang cukup menjanjikan untuk investasi jangka pendek, di kala berita-berita vaksin masih menimbulkan sentimen positif. Namun, untuk jangka panjang masih dipertanyakan.

"Ya lebih kepada short term. Selama berita-berita vaksin dari pemerintah masih ada, ya kita bisa memanfaatkan itu. Lalu yang dipertanyakan, ini sampai berapa lama? Ya kita nggak tahu," tutup Reza.

(das/das)