Wall Street Cetak Rekor, 'Nggak Goyang' Meski Ada Kerusuhan di Capitol

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 08 Jan 2021 11:58 WIB
Pusat bisnis di New York, Wall Street terlihat kosong melompong sebagai dampak
 pandemi Covid-19, Minggu (29/3/2020).
Foto: Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency
Jakarta -

Bursa Amerika Serikat (AS) atau Wall Street menguat ke level tertinggi yang mencetak rekor baru sepanjang masa. Hal itu menunjukkan ketangguhan Wall Street yang tak goyah meskipun ada kerusuhan di Gedung Capitol yang menewaskan 4 orang.

Dilansir dari CNN, Jumat (8/1/2021), indeks saham S&P 500 (SPX) ditutup naik 1,5% pada perdagangan semalam. Namun, Nasdaq Composite (COMP) ditutup 2,6% lebih tinggi. Kemudian, Dow (INDU) ditutup 0,7%, atau 212 poin, lebih tinggi.

Secara keseluruhan, 3 indeks itu ditutup pada level yang mencetak rekor baru. Indeks Dow ditutup di atas 31.000 poin, dan Nasdaq ditutup di atas 13.000 poin untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Para investor AS memang lebih fokus pada pergeseran pemerintahan AS, di mana Partai Demokrat akan memegang kendali atas Gedung Putih dan Kongres. Kontrol atas ketiga cabang pemerintahan memberikan keuntungan bagi agenda pemerintahan Biden. Hal itu kemungkinan akan mempermulus rencana penyaluran stimulus tambahan untuk membangkitkan ekonomi.

Dengan fokus pada agenda Biden itu, tentunya kerusuhan di Capitol tidak mempengaruhi sentimen positif para investor di pasar. Faktanya, seperti yang sudah disebutkan bahwa Wall Street justru mencetak rekor.

Namun, optimisme di Wall Street bukanlah suatu kejutan. Secara historis, bursa AS tidak terpengaruh oleh kerusuhan sipil selama gejolak tersebut tidak berdampak nyata pada pendapatan atau pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, suku bunga yang masih rendah memang membuat Wall Street masih 'terselimuti' kabar baik. Pasalnya, dunia usaha masih bisa mengajukan kredit yang murah.

Selain itu, peluncuran vaksin Corona juga semakin memperkuat optimisme pemulihan ekonomi yang kuat di 2021. Data-data lainnya juga memperkuat harapan, yakni angka pengangguran yang lebih rendah dari perkiraan pekan lalu, dan juga Purchasing Managers Index (PMI) pada Desember yang lebih kuat daripada yang pernah diperkirakan.

(fdl/fdl)