Mau IPO, Bank Net Indonesia Syariah Incar Dana Segar Rp 525 M

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 12 Jan 2021 15:25 WIB
Hasil perhitungan cepat (quick count) sementara sudah menunjukkan calon presiden Joko Widodo unggul terhadap capres Prabowo Subianto, Kamis (10/7/2014). Saham media milik Grup Bakrie dan MNC anjlok gara-gara menampilkan hasil quick count yang berbeda dengan media lain.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

PT Bank Net Indonesia Syariah akan melakukan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia. Pencatatan saham perdana dijadwalkan pada 2 Februari 2021.

Direktur PT Bank Net Indonesia Syariah, Basuki Hidayat mengatakan proses bookbuilding akan dilakukan mulai dari tanggal 11 Januari 2021 sampai 18 Januari 2021. Dia juga menyebut dana hasil IPO nantinya digunakan untuk modal kerja perseroan.

"Keseluruhan dana hasil IPO akan digunakan oleh perseroan untuk modal kerja seperti biaya pemeliharaan IT dan penunjangnya dan modal kerja lainnya, hal ini sejalan dengan rencana strategis bank yang akan bertransformasi menjadi bank digital" ujarnya, Senin (11/01/2021).

Saham yang akan dilepas sebanyak 5 miliar lembar saham dengan harga Rp 100 per sahamnya. Total saham itu mewakili 37,90% dari modal disetor setelah IPO.

Sementara, dalam proses bookbuilding perseroan menetapkan range harga Penawaran Umum pada kisaran Rp 103 hingga Rp 105 , sehingga dana yang diperoleh berkisar Rp 515 miliar hingga Rp 525 miliar.

Selain mencatatkan sahamnya, perseroan juga akan menerbitkan waran seri I sebanyak 2.8 miliar lembar atau sebesar 34,175% dari modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan pada saat pendaftaran.

Basuki menjelaskan, waran Seri I ini akan diberikan secara cuma-cuma kepada para pemegang saham baru dengan perbandingan 25 Saham Baru mendapatkan 14 Waran Seri I.

Selain telah diizinkan melakukan proses bookbuilding. Direktur Investment Banking PT NH Korindo Sekuritas Indonesia Amir Suhendro Samirin selaku penjamin emisi efek mengatakan, Bank Net Indonesia Syariah telah mendapatkan izin pra efektif dari Otoritas Jasa Keuangan pada tanggal 8 Januari 2021.

"Kami berkeyakinan bahwa proses bookbuilding ini akan mendapat respon yang bagus dari pasar serta dapat terserap dengan baik walaupun di tengah masa pandemi COVID-19 ini," katanya.

(eds/eds)