SoftBank Jual Saham Uber Rp 28 T, Ada Apa?

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 12 Jan 2021 19:45 WIB
SUN VALLEY, ID - JULY 08: Masayoshi Son, founder and chief executive officer of SoftBank, the chief executive officer of SoftBank Mobile, and current chairman of Sprint Corporation, attends the Allen & Company Sun Valley Conference on July 8, 2015 in Sun Valley, Idaho. Many of the worlds wealthiest and most powerful business people from media, finance, and technology attend the annual week-long conference which is in its 33rd year.  (Photo by Scott Olson/Getty Images)
Foto: Getty Images
Jakarta -

Vision Fund perusahaan afiliasi dari SoftBank Group Corp menjual sekitar US$ 2 miliar atau setara Rp 28,4 triliun (kurs Rp 14.200) sahamnya di Uber Technologies Inc. Penjualan itu dilakukan setelah saham Uber dalam tren penguatan.

Mengutip Bloomberg, Selasa (12/1/2021), Vision Fund menjual 38 juta saham pada 7 Januari dengan harga rata-rata US$ 53,46, menurut pengajuan ke U.S. Securities & Exchange Commission. SoftBank masih memegang sekitar 184,2 juta saham, bernilai sekitar $ 10 miliar dengan harga saat ini.

Pendiri SoftBank Masayoshi Son adalah investor agresif di sektor ride-hailing. Dia telah mengambil saham utama di Uber, Didi Chuxing China, Ola India, dan Grab Asia Tenggara. Pertaruhan investasi itu tampak dalam bahaya ketika Uber tersandung setelah penawaran umum perdana 2019 dan pandemi virus Corona yang telah membanting permintaan.

Namun saham Uber naik lebih dari tiga kali lipat dari level terendahnya pada Maret tahun lalu karena pasar modal melonjak. Sekarang Didi, investasi terbesar dalam portofolio SoftBank, juga mempertimbangkan untuk melakukan IPO pada paruh kedua tahun ini.

"SoftBank Vision Fund dapat membuka jalan bagi IPO Didi Chuxing setelah menjual saham Uber.Karena dilaporkan memiliki sekitar 20% dari perusahaan China, mengurangi eksposur ke Uber dapat membantu meredakan kekhawatiran calon investor Didi tentang pengaruh besar Softbank di sektor ride-sharing dan potensi konflik kepentingan,"tulis Anthea Lai, analis Bloomberg Intelligence.

Untuk mengatasi pandemi, Kepala Eksekutif Uber Dara Khosrowshahi memprakarsai dua kali pemutusan hubungan kerja dan mengurangi inisiatif mahal seperti sepeda listrik dan taksi terbang. Sementara kebijakan lockdown untuk mengurangi kasus COVID-19 terus menekan permintaan perusahaan. Pendapatan perusahaan di AS dan Kanada turun 30% selama kuartal III.

Meski begitu bisnis pengiriman makanan Uber telah melonjak selama pandemi. Kenaikan itu menutupi sebagian besar kerugian perusahaan.

Sementara saham SoftBank juga menguat karena investasi seperti Uber telah pulih dan beberapa perusahaan portofolionya telah go public. Son telah menjual aset untuk mendanai pembelian kembali sahamnya sendiri.

(das/ara)