Saham Infrastruktur Diprediksi Moncer Gegara SWF

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 19 Jan 2021 23:40 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksikan masih terus bergerak untuk kembali bangkit ke teritori positif. Pelaku bisnis brokerage pun optimis, perdagangan saham akan kembali bergairah ke arah positif.
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Staf Khusus Menteri BUMN Bidang Komunikasi Arya Sinulingga memprediksi pergerakan saham infrastruktur ke depan. Menurut Arya, saham infrastruktur bakal terdongrak Indonesia akhirnya punya lembaga khusus buat tampung dana asing.

Lembaga khusus yang dimaksud adalah Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Sovereign Wealth Fund (SWF). Pembentukan lembaga itu ditetapkan lewat Peraturan Pemerintah No.74 Tahun 2020 tentang Lembaga Pengelola Investasi yang baru diteken per 14 Desember 2020 lalu.

"SWF ini akan menaikkan saham infrastruktur," ujar Arya dalam acara Creative Money Berita Satu bertema Primadona Emiten 2021, Selasa (19/1/2021).

Alasannya, kehadiran SWF akan mendorong emiten infrastruktur melakukan lebih banyak aksi korporasi. Melalui aksi korporasi maka kinerja perusahaan terdongkrak dan memberi sentimen positif di pasar.

"(Asing) masuk mengambil membeli jalan tol yang dimiliki kawan-kawan dari infrastruktur, jadi join antara SWF punya pemerintah dengan asing yang masuk juga, sehingga nantinya dengan dibelinya jalan tol tersebut, uang hasil pembelian itu akan menjadi modalnya infrastruktur untuk aksi korporasi lagi," sambungnya.

Penilaian Arta diamini Kepala Riset MNC Sekuritas Thendra Crisnanda.

"Kalau kita perhatikan, kemarin ada Omnibus Law kemudian ada SWF sekarang lebih mengurucut lagi sudah mulai pembangunan dari lembaga pengelola investasi ini tentunya memberikan suatu katalis yang positif," kata Thendra

Sebab, komitmen yang masuk melalui SWF sejauh ini sudah cukup besar dan itu menjadi hal yang ditunggu-tunggu investor.

"Komitmen investasi yang masuk melalui SWF itu sudah sebanyak US$ 8 miliar totalnya itu sekitar US$ 20 miliar atau setara Rp 300-400 triliun. Tentunya ini menjadi suatu hal yang memang ditunggu-tunggu dari sisi investor," sambungnya.

Selain itu, kehadiran SWF dinilai dapat memperbaiki struktur APBN dan ujung-ujungnya mengurangi defisit serta menaikkan nilai tukar rupiah, dan berpengaruh pada harga saham.

"Dengan adanya SWF ini memperbaiki struktur kalau kita lihat di APBN yang ada di pemerintah karena dengan adanya SWF itu tidak membebani APBN yang ujung-ujungnya kita lihat juga ada perbaikan dari sisi makro di mana kira harapkan untuk defisit APBN kita itu cenderung tidak begitu besar dibanding beberapa waktu lalu sehingga nilai tukar kita semakin kuat," tutur Thendra.

(hns/hns)