Kalau Portofolio Saham Sudah Anjlok, Harus Gimana?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 28 Jan 2021 08:50 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Begitu banyak investor pemula yang mengeluh portofolio sahamnya merah alias anjlok. Minimnya pengetahuan akan berinvestasi saham membuat para investor pemula kebingungan harus mengambil langkah apa.

Menurut Perencana Keuangan Senior Aidil Akbar Madjid, jika seseorang mengalami penurunan nilai portofolio yang ditujukan untuk investasi jangka panjang, mengatasinya justru dengan membeli saham itu lagi, atau melakukan metode dollar cost averaging (DCA). Dengan cara itu, maka total modal yang dikeluarkan untuk membeli saham akan berkurang, dan itu akan terlihat ketika mengambil keuntungan atau taking profit di masa depan.

"Kalau kita sebagai investor, maka senjatanya adalah kita masuk lagi dan dikalikan 2. Misalnya menunggu Antam diskon lagi, sebenarnya kalau masih ada peluru, maka di saat itulah dia masuk lagi untuk menurunkan cost yang tadi di atas, kerugian mungkin 30-40%, kalau dia masuk lagi di bawah dengan nominal yang sama akan terdiskon kerugiannya 50%. Jadi dari 30-40%, menjadi hanya 15-20%, itu teorinya, disebut DCA," jelas Aidil dalam bincang d'Rooftalk edisi Waspada Investasi Saham Pompom, Rabu (27/1/2021).

Namun, untuk melakukan DCA maka investor tersebut masih harus menyiapkan modal dalam rekening efeknya. Oleh sebab itu, Aidil mengingatkan agar saldo di rekening efek tak dihabiskan semua. Hal ini agar bisa memiliki banyak portofolio saham.

"Makanya tadi ketika masuk ke saham jangan semua pelurunya digunakan. Itu kalau bicara investasi jangka panjang, tapi itu hanya berlaku untuk saham-saham yang masih punya potensi, perusahaan besar, bagus. Kalau dia lagi merah, kita sebenarnya nggak perlu takut. Malah kalau merah, saya pasti beli lagi di bawah, kalau nggak sempat cut loss," papar dia.

Sementara itu, bagi masyarakat yang berperan sebagai trader di bursa, maka caranya adalah melakukan cut loss apabila tak lagi melihat potensi di saham tersebut.

"Ketika saham tersebut tidak ada potensi lagi, atau nyangkut mendekati Rp 50/lembar, cut loss itu kadang-kadang pil pahit yang harus ditelan. Jadi membersihkan rapot lah, supaya jangan merah itu kebawa-bawa. Jadi jangan kerugian 3-4 tahun lalu kebawa terus sampai sekarang, jadi malah merusak konsentrasi kita, merusak kita mau investasi saham ke depan. Jadi anggap saja itu uang sekolah," kata dia.

Apa yang harus dilakukan kalau portofolio saham anjlok? klik halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2