Dividen Global Anjlok Rp 3.000 T Gegara Pandemi

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 22 Feb 2021 10:22 WIB
Imbas Virus Corona yang merebak dan menelan ratusan korban jiwa kini mulai menggoyang ekonomi China dan beberapa negara di Asia seperti Jepang. Pasar saham China pun ambruk sejak pembukaan perdagangan.
Ilustrasi/Foto: AP Photo
Jakarta -

Dividen global turun tajam pada 2020 akibat pandemi Corona (COVID-19). Pemotongan dan pembatalan dividen mencapai US$ 220 miliar setara Rp 3.097 triliun (kurs Rp 14.078) antara kuartal II-IV 2020.

Dikutip dari CNBC, Senin (22/2/2021) Menurut Indeks Dividen Global terbaru dari manajer aset Janus Henderson jumlah pembayaran investor menurun 12,2% menjadi US$ 1,26 triliun. Penurunan itu disebabkan lockdown dan pembatasan aktivitas bisnis selama pandemi.

Jumlah total dividen yang dibayarkan antara April dan Desember 2020 sebesar US$ 965,2 miliar. Pemotongan dividen paling parah terjadi di Inggris dan Eropa, keduanya menyumbang lebih dari setengah total pengurangan pembayaran secara global.

Sementara, pembayaran dividen di AS naik 2,6% di 2020. Kenaikan itu diprediksi karena AS diketahui baik dalam menghemat uang tunai dan melindungi dividen mereka dengan mengurangi pembelian kembali saham.

Di tempat lain secara global, Australia juga mengalami penurunan dividen. Sementara China, Hong Kong, Swiss hingga Kanada masuk sebagai negara-negara dengan ekonomi kinerja terbaik.

Meski dividen global 2020 dikatakan anjlok, penurunan tersebut tidak separah yang diperkirakan. Janus Henderson mencatat beberapa perusahaan seperti Sberbank di Rusia dan Volkswagen di Jerman memulihkan dividen yang ditangguhkan. Sementara, Essilor di Prancis, mengembalikan dividen pada level yang lebih rendah.

"Satu dari delapan perusahaan membatalkan pembayarannya sama sekali dan satu dari lima melakukan pemotongan, tetapi dua pertiga meningkatkan dividen mereka atau menahannya," katanya.

Pada basis sektoral, bank menyumbang sepertiga dari pengurangan dividen global berdasarkan nilai, dengan pemotongan dividen hampir US$ 54 juta dan U$ 34 juta dibatalkan dalam sektor industri, sementara produsen minyak memotong dan membatalkan dividen US$ 24 juta.

Jika melihat untuk 2021, ketika vaksin COVID-19 diluncurkan, meningkatkan ekspektasi bahwa ekonomi dunia akan kembali pulih. Namun, Janus Henderson memperkirakan pembayaran dividen akan terus turun pada kuartal I-2021, meskipun penurunan tersebut cenderung lebih kecil daripada kuartal II-IV 2020.

Skenario terbaik dari Janus Henderson melihat dividen 2021 naik 5% menjadi total US$ 1,32 triliun.

(ara/ara)