Usai Ribut Investor Vs Bandar, Direktur Keuangan GameStop Mundur

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 24 Feb 2021 10:42 WIB
gamestop
Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

Beberapa pekan setelah pertarungan sengit antara investor dan bandar di saham GameStop, Direktur Keuangan perusahaan tersebut, yakni Jim Bell mengundurkan diri, dan akan berlaku efektif 26 Maret 2021.

Perusahaan pun langsung membuka lowongan untuk posisi tersebut. Adapun syarat pelamar ialah memiliki kemampuan dan kualifikasi yang mempu membantu dan mempercepat transformasi GameStop.

Dilansir dari CNN, Rabu (24/2/2021), pengumuman pembukaan lowongan Direktur Keuangan muncul tepatnya setelah sebulan setelah hiruk-pikuk perdagangan antara forum WallStreetBets di Reddit dengan bandar dan juga aplikasi perdagangan saham ritel, Robinhood.

Para investor yang tergabung dalam forum WallStreetBets membeli saham GameStop demi mencegah para bandar melakukan shortsell. Akhirnya, pada 27 Januari lalu, saham GameStop ditutup pada harga US$ 347,51, atau naik 1.915% dari harga tahun lalu yang hanya US$ 4 per lembar.

Namun, akibat kebijakan Robinhood melarang pembelian saham GameStop dengan alasan fluktuasi tinggi, nilai saham pun anjlok 44%.

Juru bicara perusahaan tak menerangkan lebih lanjut terkait alasan Bell mengundurkan diri. Dalam pernyataan resminya, GameStop hanya memberikan apresiasi dan penghargaan atas jasa Bell selama hampir 2 tahun, dan telah membantu perusahaan bertahan di tengah tekanan pandemi COVID-19.

Bell menjadi Direktur Keuangan GameStop pada Juni 2019. Kala itu, CEO perusahaan mengakui bahwa GamesStop berada dalam kondisi yang sulit karena penurunan penjualan. Perusahaan juga berencana menutup sekitar 200 toko.

Kinerja perusahaan menurun di tengah industri video game berkembang pesat. Hal itu membuat produk GameStop yakni game fisik tak lagi populer.

Kemudian pandemi melanda dan segalanya menjadi jauh lebih buruk. Pada bulan September 2020, perusahaan mengumumkan rencananya untuk menutup antara 400-450 toko secara global pada akhir tahun. Pada kuartal III-2020, perusahaan membukukan kerugian bersih sebesar US$ 18,8 juta atau setara Rp 264 miliar.

Namun, beberapa investor tetap berharap perusahaan dapat mengurangi ketergantungannya pada penjualan di toko fisik, dan melakukan transisi ke e-commerce.

Jika tidak ada pada proses perekrutan perusahaan belum menemukan pengganti Bell yang tepat, maka perusahaan berencana untuk menunjuk Chief Accounting Officer (COO) atau Direktur Operasi dan Akuntansi Diana Jajeh sebagai CFO interim.

(vdl/eds)