Emiten Sawit Ini Tambah Saham di Perusahaan Eksportir Minyak Goreng

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 02 Mar 2021 18:01 WIB
Pekerja melakukan bongkar muat kelapa sawit yang akan diolah menjadi minyak kelapa sawit Crude palem Oil (CPO) dan kernel di pabrik kelapa sawit Kertajaya, Malingping, Banten, Selasa (19/6). Dalam sehari pabrik tersebut mampu menghasilkan sekitar 160 ton minyak mentah kelapa sawit. File/detikFoto.
Ilustrasi/Foto: Jhoni Hutapea
Jakarta -

PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) menjajaki penambahan porsi saham di PT Citra Borneo Utama (CBU) seiring target perseroan meningkatkan jumlah kepemilikan saham di CBU menjadi 50%. Sebelumnya, SSMS telah meningkatkan kepemilikan saham di CBU sebanyak 32% dari 19% melalui skema konversi utang PT Citra Borneo Indah (CBI) kepada SSMS.

Direktur Keuangan Sawit Sumbermas Sarana, Hartono Jap mengatakan rencana menambah kepemilikan saham CBU ini mempertimbangkan berbagai faktor.

"Ada planning menjajaki pembelian saham CBU yang mempertimbangkan berbagai faktor, antara lain due diligence, strategic partner, dan faktor lainnya," ujar Hartono dalam keterangan tertulisnya, Selasa (2/3/2021).

Hartono mengatakan pembelian saham CBU itu merupakan rencana memperkuat strategi hilirisasi bisnis SSMS untuk meningkatkan utilisasi pabrik penyulingan kelapa sawit mencapai 100% dari sebelumnya sebesar 70% dari kapasitas 2.500 ton/hari.

Hartono menyebutkan CBU merupakan sister company yang bergerak di bidang pengolahan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) menjadi produk-produk hilir seperti olein (minyak goreng) dan lain-lain untuk diekspor ke negara tujuan, seperti India, China, Pakistan, dan Bangladesh. Adapun, porsi ekspor SSMS pada 2020 sekitar 10%-15% dari total keseluruhan hasil produksi.

Rencana aksi korporasi SSMS lainnya di 2021 adalah mempersiapkan pembagian dividen untuk laporan keuangan tahun 2020. Hartono memberikan sinyalemen SSMS memproyeksikan rasio pembayaran dividen akan dipertahankan di kisaran 30% hingga 50% dari laba bersih tahun 2020. SSMS memproyeksikan pendapatan sepanjang tahun 2020 berkisar Rp 4 triliun, lebih tinggi dibandingkan pendapatan di 2019 yang sebesar Rp 3,2 triliun.

Peningkatan pendapatan penjualan yang cukup signifikan ini juga dipicu oleh tren positif kenaikan harga jual rata-rata CPO dunia yang mengalami peningkatan di kuartal III-2020. "Laba bersih, kami targetkan bisa mencapai Rp 400 miliar, meningkat dari Rp 12 miliar di tahun 2019. Untuk, porsi pembagian dividen, kami menargetkannya berkisar 50% dari laba bersih tahun 2020," tutur Hartono.

SSMS optimistis kinerja operasional dan keuangan pada 2021 bakal meningkat walau pandemi COVID-19 berdampak terhadap seluruh sektor bisnis nasional dan global.

Meski demikian, Hartono menjabarkan SSMS mengimplementasikan praktik terbaik (best practices) yang memacu kinerja keuangan dan operasional yang berkelanjutan (sustainability) seiring dengan tren kenaikan harga CPO dan mempraktikkan prinsip industri kelapa sawit berkelanjutan.

Untuk menyokong target tahun ini, Hartono menyampaikan SSMS mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp 550 miliar yang bersumber dari kas internal.

"Capex akan digunakan untuk pembangunan dan perawatan infrastruktur, yakni jalan di areal perkebunan dan memutakhirkan sistem teknologi informasi, semua dana capex berasal dari kas internal," terangnya.

(das/ara)