Investor Ramai-ramai 'Buang' Saham Apple cs, Ada Apa?

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 05 Mei 2021 08:04 WIB
Persaingan Ketat Penghitungan Suara Pemilu AS, Bursa Saham Seolah Menahan Napas
Foto: DW (News)
Jakarta -

Investor berbondong-bondong menjual saham perusahaan teknologi yang diperdagangkan di indeks Nasdaq, bursa saham Amerika Serikat (AS). Hal itu membuat Nasdaq berakhir melemah tajam pada hari Selasa.

Dilansir dari Reuters, Rabu (5/5/2021), investor 'membuang' saham megacap untuk mencari perlindungan di pasar yang lebih defensif. Itu dilakukan di tengah kekhawatiran akan kenaikan suku bunga dan ketidakpastian atas laporan tenaga kerja yang akan datang.

Perusahaan terkait teknologi bernilai tinggi termasuk Microsoft Corp (MSFT.O), Alphabet Inc (GOOGL.O), Apple Inc (AAPL.O), Amazon.com Inc (AMZN.O) dan Facebook Inc (FB.O) dijual bersamaan. Apple mengalami kejatuhan paling banyak sebesar 3,54%. Philadelphia Semiconductor Index (.SOX) juga turun 1,6%.

"Ketika kami mengalami jeda atau kemunduran, orang cenderung keluar dari saham yang sedang tumbuh ke saham yang lebih defensif," kata Randy Frederick, wakil presiden perdagangan dan derivatif untuk Charles Schwab di Austin, Texas.

Sementara saham Materials (.SPLRCM) dan financials (.SPSY) memperpanjang kenaikan pada hari Senin, masing-masing naik 1% dan 0,7% karena investor terus memutar uang ke sektor siklus.

Indeks Komposit Nasdaq (.IXIC) tercatat turun 261,62 poin, atau 1,88% menjadi 13.633,50, sedangkan S&P 500 (.SPX) kehilangan 28 poin atau 0,67% menjadi 4.164,66. Indeks Dow Jones Industrial Average (.DJI) mengurangi kerugian sebelumnya dan ditutup sedikit lebih tinggi, naik 19,8 poin atau 0,06% menjadi 34.133,03.

Komentar Menteri Keuangan Janet Yellen tentang potensi kebutuhan untuk kenaikan suku bunga semakin memperburuk aksi jual saham teknologi. Sebab, investor khawatir suku bunga yang lebih tinggi akan membebani penilaian perusahaan yang sedang berkembang.

"Mungkin suku bunga harus naik sedikit untuk memastikan bahwa ekonomi kita tidak terlalu panas (overheating), meskipun pengeluaran tambahan relatif kecil dibandingkan dengan ukuran ekonomi," katanya dalam komentar yang direkam di sebuah acara virtual oleh Atlantik.

"Wall Street tidak akan mengetahui apakah Fed membuat kesalahan kebijakan sampai beberapa bulan ke depan dan itu membuat beberapa pedagang gugup," tulis Edward Moya, analis pasar senior di Oanda.

(fdl/fdl)