Mengintip Rencana IPO 15 BUMN hingga 2023

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 04 Mei 2021 20:46 WIB
Sejumlah tamu beraktivitas di dekat logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (2/7/2020). Kementerian BUMN meluncurkan logo baru pada Rabu (1/7) yang menjadi simbolisasi dari visi dan misi kementerian maupun seluruh BUMN dalam menatap era kekinian yang penuh tantangan sekaligus kesempatan. ANATAR FOTO/Aprillio Akbar/nz
Foto: Edi Wahyono: ilustrasi Menteri BUMN Erick Thohir
Jakarta -

Menteri BUMN Erick Thohir menargetkan sekitar 10-15 BUMN akan menggelar penawaran saham perdana atau IPO (initial public offering) hingga 2023. Erick mengatakan IPO ini merupakan salah satu cara agar BUMN bisa bersaing di pasar bebas.

"Kenapa saya bicara pasar bebas? Karena semua sekarang sudah digital. Kalau digital itu lintas batas. Nah, contoh-contoh bisnis konkrit di mana? Di klaster seperti Himbara, atau di klaster seperti telko yang pasarnya terbuka, ada swasta, asing, tetapi BUMN punya kekuatan yang bisa menyeimbangi," kata Erick di Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (4/5/2021).

Menurutnya IPO ini memberikan dampak positif terhadap BUMN maupun negara. Apalagi melihat prestasi 34 BUMN yang sudah melantai di bursa, bahkan mendominasi nilai kapitalisasi pasar hingga Rp 1.750 triliun.

"Apalagi BUMN tugasnya itu kan selain daripada korporasi, juga pelayanan publik. Hasil korporasi BUMN dikembalikan ke negara sebagai dividen, apakah pajak atau PNBP, dipakai lagi untuk program pemerintah," terang Erick .

Selain IPO, Erick Thohir juga akan fokus terhadap rencana kerja sama dengan Sovereign Wealth Fund (SWF) atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI) alias Indonesia Investment Authority (INA).

Tak hanya itu, ia juga membeberkan rencana besar pemerintah yakni program energi baru terbarukan (EBT) untuk membangun green economy. Erick mengatakan, nantinya pemerintah akan memerintahkan PT PLN (Persero) untuk melakukan transisi terhadap pembangkit listrik atau power plant-nya, menyesuaikan program EBT tersebut.

"Indonesia ditargetkan untuk free carbon di tahun 2060, Jepang 2050. Artinya renewable energy menjadi sebuah keharusan. Ini yang coba kita transisikan daripada power-power plant yang ada di PLN," imbuhnya.

Terakhir, ia juga membeberkan rencana mendorong PT Bio Farma (Persero) agar mampu memproduksi vaksin dengan mandiri, dari awal hingga siap dipakai.

"Bio Farma hari ini masih memfokuskan diri menjadi tukang jahit. Tapi kalau kita lihat track record Bio Farma ke depan atau sebelumnya, itu kan Bio Farma merupakan global company yang sudah diakui dunia tadi memproduksi vaksin seperti polio, meningitis, dan seterusnya. Nah tidak salah dong ketika suatu hari kita bisa memproduksi vaksin kita sendiri," tutur Erick Thohir.

3 Poin Penting soal Terbongkarnya Modus Kepala Daerah Dibodohi Lewat Belanja Pegawai

(vdl/hns)