Masih Berotot, Begini Kondisi Rupiah Terkini

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 25 Mei 2021 20:15 WIB
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah terus menguat, rupiah saat ini berada di kisaran Rp 13.798 dari hari sebelumnya yaitu sekitar Rp 13.712.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Nilai tukar rupiah pada 24 Mei 2021 tercatat menguat 0,63% secara point to point dan 1,42% secara rata-rata dibandingkan April 2021. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan perkembangan tersebut melanjutkan penguatan nilai tukar rupiah pada bulan sebelumnya sebesar 0,55% secara point to point.

"Penguatan nilai tukar Rupiah didorong oleh masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, meskipun pada perkembangan terakhir mengalami tekanan akibat fluktuasi imbal hasil UST (US Treasury)," kata Perry dalam konferensi pers, Selasa (25/5/2021).

Dia menyebutkan dengan perkembangan tersebut, rupiah sampai dengan 24 Mei 2021 mencatat depresiasi sekitar 2,12% (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2020, relatif lebih rendah dari sejumlah negara berkembang lain, seperti Turki, Brazil, dan Thailand.

"Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar, melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar," ujar dia.

Posisi cadangan devisa pada April 2021 mencapai US$ 138,8 miliar, setara pembiayaan 10 bulan impor atau 9,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Secara keseluruhan sepanjang 2021 defisit transaksi berjalan diprakirakan akan tetap rendah sekitar 1%-2% dari PDB.

"Ke depan, berbagai upaya memperkuat ketahanan eksternal terus dilanjutkan, termasuk peningkatan iklim investasi sejalan implementasi Undang-Undang Cipta Kerja dan menjaga daya tarik aset keuangan domestik," jelas dia.

Pada kuartal I 2021, NPI mencatat surplus sebesar US$ 4,1 miliar dipengaruhi oleh defisit transaksi berjalan yang rendah serta surplus pada transaksi modal dan finansial. Transaksi berjalan mencatat defisit US$ 1,0 miliar (0,4% dari PDB), dipengaruhi oleh kenaikan impor seiring perbaikan ekonomi domestik di tengah kinerja ekspor yang semakin baik.

Perbaikan ekspor terjadi pada hampir semua komoditas utama, di antaranya Crude Palm Oil (CPO), batubara, serta besi dan baja. Transaksi modal dan finansial mengalami surplus didorong net inflows investasi portofolio sebesar US$ 4,9 miliar.

Perkembangan positif NPI berlanjut pada April 2021 dengan neraca perdagangan yang mencatat surplus sebesar US$ 2,2 miliar dan investasi portofolio yang kembali mengalami net inflows sebesar US$ 900 juta dari periode April hingga 21 Mei 2021, sejalan ketidakpastian pasar keuangan global yang berkurang.

(kil/hns)