Obat Terapi COVID-19 Ivermectin Kerek Saham Farmasi To The Moon

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 22 Jun 2021 11:43 WIB
Ivermectin is not a brand name: it is the generic term for the drug.
Foto: Getty Images/iStockphoto/RapidEye
Jakarta -

Beberapa saham farmasi sejak kemarin menguat begitu tinggi. Ada sentimen positif dari kehadiran Ivermectin.

Bahkan kemarin saham-saham sektor farmasi menguat begitu tinggi hingga menyentuh level batas atas atau auto reject atas (ARA). Anomali ini mirip ketika masa awal pandemi COVID-19 di tahun lalu, ketika saham-saham farmasi terbang di saat saham lainnya turun.

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi menilai, apa yang terjadi sekarang memang mungkin merupakan kejadian yang terulang dari tahun lalu. Sebab belakangan ini kasus COVID-19 kembali meningkat begitu drastis.

"Peningkatan kasus COVID membuat saham-saham farmasi lebih mendapat konsen investor karena segi bisnisnya," tuturnya saat dihubungi detikcom, Selasa (22/6/2021).

Selain itu, menurutnya pengguna jasa kesehatan saat ini semakin meningkat, sehingga diyakini mampu membuat kinerja saham-saham farmasi positif dari segi keuangan

Kemudian sentimen lainnya adalah kondisi darurat COVID-19 saat ini membuat pemerintah terus berupaya melakukan produksi produk kesehatan di dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Hal itu diyakini memberikan angin segar buat perusahaan-perusahaan farmasi.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan hal yang serupa. Namun menurutnya faktor yang lebih besar adalah pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir mengumumkan obat terapi COVID-19 bernama Ivermectin telah mendapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Jadi secara tidak langsung saham-saham farmasi kompak dinaikkan oleh market maker," ucapnya.

Namun Sukarno mengaku tak yakin saham-saham farmasi ini akan meningkat drastis seperti tahun lalu. Menurutnya penguatannya akan bersifat terbatas.

"Sepertinya ragu kalau untuk kembali kencang seperti tahun lalu. Kalaupun iya, diharapkan hati-hati saja karena hanya bersifat sementara. Jangan terlalu terpancing dengan kenaikan yang ekstrem, karena resiko penurunannya juga tinggi," tegasnya.

(das/ara)