Proyek Induk Grup Bakrie Terganjal Corona, Ini Daftarnya

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 25 Jun 2021 18:47 WIB
Gedung Bakrie Tower berlokasi di Jl. HR Rasuna Said, Kuningan - Jakarta merupakan gedung perkantoran yang dibangun setinggi 48 lantai dengan basement sedalam 4 lantai. Gedung ini dibangun menggunakan teknologi bekisting Caplock Turkey, dan Core Wall system Climbing. Kolom miring yang berbalik arah setiap 17 lantai merupakan keunikan bangunan ini. File/detikFoto.
Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Dampak buruk Corona masih terasa, termasuk bagi PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Berbagai proyek garapannya pun terhambat.

Direktur Utama PT Bakrie & Brothers Tbk Anindya Novyan Bakrie mengatakan proyek yang mengalami kemunduran itu adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati A 2x660 megawatt (MW), proyek jalan tol Cimanggis-Cibitung, serta proyek Pipa Gas Transmisi Kalimantan-Jawa (Kalija).

"Proyek infrastruktur banyak menghadapi delay. Jalan tol yang kita punya seperti Cimanggis-Cibitung jalan terus tapi waktunya mempunyai kemunduran. Waskita Karya, project event juga kita mendapatkan kemenangan lelang dari BPH Migas dan juga begitu dengan project Kalija, begitu juga dengan pembangkit listrik," katanya dalam press conference virtual, Jumat (25/6/2021).

Anindya menyebut tahun 2020 sejak adanya COVID-19 sangat berat untuk keberlangsungan bisnis hingga perusahaan mengalami kerugian. Berdasarkan catatan detikcom, Bakrie & Brothers mencatatkan rugi bersih Rp 240 miliar pada kuartal III-2020 dengan EBITDA Rp 17 miliar.

EBITDA itu turun dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp 232 miliar. Pendapatan perseroan juga turun hingga 20% menjadi Rp 1,97 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 2,47 triliun.

"2020 tahun yang sangat berat buat kita semua. Tahun di mana 2020 apa yang telah kita rapikan dari 2016, sampai mendapat keuntungan hampir Rp 1 triliun di 2019 kita harus mengalami kerugian lagi," tuturnya.

Meski begitu, dia yakin bisa melewatinya dengan cara memperluas bisnis.

"Kita tidak takut bahwa kita punya balance sheet cukup kuat untuk menghandle ini semua dan masih bisa dibuat untuk melanjutkan perusahaan dan dengan pengalaman, kita punya kemampuan untuk bounce back bahkan bahasa saya bounce power," tuturnya.

"Di satu sisi kita mesti menghadapi 2020 COVID, tapi 2021 banyak tanda-tanda kehidupan sampai 20 kali lebih besar," tambahnya.

(aid/hns)