Masih Rugi saat IPO, Kapan Bukalapak Bisa Cetak Untung?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 10 Jul 2021 19:00 WIB
IPO Bukalapak
Foto: IPO Bukalapak (Denny Pratama/detikcom)
Jakarta -

Bukalapak akan melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) pada akhir Juli. Bukalapak menargetkan dana segar Rp 21,9 triliun dari penerbitan saham ini.

Penawaran awal akan dilakukan 9-19 Juli 2021. Kemudian tanggal efektif pelaksanaan IPO ditetapkan 26 Juli 2021. Kemudian masa penawaran umum perdana saham dilakukan pada 28-30 Juli 2021.

Perusahaan sendiri saat ini masih mencatatkan kerugian pada kinerja keuangan tahun 2020. Berdasarkan dokumen laporan keuangan tahun 2020, Bukalapak masih mencatat kerugian Rp 1,3 triliun. Angka ini lebih rendah dibandingkan kerugian pada 2019 yang mencapai Rp 2,8 triliun dan 2018 rugi Rp 2,2 triliun.

Ekonomi dan Praktisi Pasar Modal Lucky Bayu Purnomo mengungkapkan untuk mendapatkan cuan, Bukalapak memang harus menunjukkan komitmen perbaikan kinerja keuangan ke para pemegang saham.

Walaupun memang dalam waktu dekat Bukalapak belum akan mendapat keuntungan. "Sekarang itu mereka harus membangun reputasi IPO dengan memberikan dividen. Tapi juga harus komitmen untuk merestrukturisasi kerugian dan berupaya untuk memperbaiki kinerja keuangan dan akhirnya bisa mendapatkan pasar yang besar untuk mendapat keuntungan," kata dia, Sabtu (10/7/2021).

Lucky menjelaskan angka yang dipasang Bukalapak Rp 750 hingga Rp 850 per lembar saham ini masih cukup terjangkau untuk investor ritel.

CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin sebelumnya mengungkapkan memang Bukalapak memiliki strategi berbeda untuk berkembang. Bukalapak juga ingin menghapus stigma jika perusahaan startup ingin tumbuh maka harus membakar uang.

Dia menginginkan perusahaannya ingin mendapatkan profitabilitas dan bisnis yang berkelanjutan ke depannya.

"Kalau perusahaan teknologi mau tumbuh harus bakar uang lebih banyak, kami berbeda. Kami ingin tumbuh, memperbaiki profitabilitas sehingga pertumbuhan berkualitas dan berkelanjutan," kata dia.

(kil/eds)