Roller Coaster Pasar Modal: Anjlok saat Awal Pandemi hingga Bangkit Perlahan

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 10 Agu 2021 11:43 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Pandemi COVID-19 masih terjadi di dunia, termasuk di Indonesia. Kondisi pandemi ini turut memengaruhi pergerakan dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di pasar modal.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi mengungkapkan sejak awal 2021 hingga 9 Agustus 2021 IHSG tercatat tumbuh 2,48% dari level 5.979,073 menjadi 6.127,456 dibandingkan dengan IHSG pada awal 2020 hingga 7 Agustus 2020 yang turun 18,34% dari 6.299,539 menjadi 5.143.893.

Selanjutnya, aktivitas perdagangan saham di Bursa masih dalam kategori cukup baik yang tercermin dari rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) hingga 9 Agustus mencapai Rp 13,24 triliun, dan rata-rata volume transaksi per hari telah mencapai 18,98 miliar saham.

Selain itu, peningkatan dialami oleh frekuensi transaksi harian yang mencapai 1,25 juta kali atau lebih dari 84,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Inarno mengatakan di tengah penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) guna mencegah penyebaran COVID-19 yang merupakan upaya pemerintah untuk percepatan pemulihan ekonomi nasional, dari sisi supply PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai dengan 9 Agustus 2021 berhasil mencatatkan 28 saham baru sekaligus menjadikan yang tertinggi di ASEAN.

"Diikuti oleh 21 saham baru di Malaysia, 20 saham baru di Thailand, 5 saham baru di Singapura, dan 3 saham baru di Filipina," kata dia secara virtual, Selasa (10/8/2021).

Dia menambahkan ada pula 3 Obligasi baru, 1 Exchange-Traded Fund (ETF) baru, dan 1 Efek Beragun Aset (EBA) baru yang tercatat di BEI. Pada 6 Agustus 2021, PT Bukalapak.com Tbk (kode saham: BUKA) resmi membuka lembaran sejarah baru bagi Pasar Modal Indonesia dengan tercatat di BEI sebagai Perusahaan Start-up Teknologi Unicorn pertama di Indonesia.

Situasi pandemi COVID-19 juga ternyata tidak menyurutkan minat investor untuk bertransaksi di Pasar Modal Indonesia, dari sisi demand jumlah investor Pasar Modal Indonesia yang tercatat pada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 6 Agustus 2021 yang terdiri atas investor saham, reksa dana, dan surat utang telah bertumbuh lebih dari 50% menjadi 5,8 juta investor dibandingkan akhir tahun 2020.

Dari jumlah tersebut, 2,6 juta di antaranya merupakan investor saham. Sementara itu, jika dilihat komposisi investor berdasarkan aktivitas transaksi per Juli 2021, Investor Ritel membukukan aktivitas transaksi yang besar yakni mencapai porsi 59,1% dari total rata-rata nilai transaksi harian, sementara sisanya dimiliki oleh Investor Institusi. "Hal ini meningkat dibandingkan dengan keadaan tahun lalu dan menunjukkan bahwa kebangkitan investor ritel yang tumbuh sejak tahun 2020 masih berlanjut hingga saat ini," imbuh dia.

Sedangkan Investor Syariah telah mencapai 100 ribu investor per akhir Juli 2021. Semua pencapaian ini tentunya merupakan kerja keras seluruh stakeholders yang tetap memberikan kontribusi dalam memajukan Pasar Modal Indonesia

Dalam rangka menyemarakkan Peringatan 44 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) yang terdiri dari BEI, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan KSEI telah menyiapkan serangkaian acara yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) di pasar modal.

Selain untuk meningkatkan awareness dan mengenang tonggak sejarah diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia, rangkaian acara tersebut juga dapat menjadi sarana untuk mengomunikasikan pencapaian dan peranan penting Pasar Modal Indonesia dalam perekonomian nasional. Rangkaian acara ini juga diharapkan dapat menjalin hubungan baik antar sesama pelaku pasar modal, media, dan masyarakat pada umumnya.

(kil/fdl)