Garuda Gelar Public Expose Insidentil Besok, Soal Apa?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 18 Agu 2021 17:07 WIB
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) datangkan pesawat Boeing 777-300ER untuk melayani penerbangan haji mulai Agustus 2015. Hari ini maskapai pelat merah itu menerima B777-300ER ketujuhnya di Hanggar 2 Garuda Maintenance Facilities (GMF), kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Rachman Haryanto/detikcom.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk akan menggelar public expose insidentil besok, 19 Agustus 2021. Pelaksanaan public expose ini atas permintaan bursa.

Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (18/8/2021), acara tersebut akan digelar secara online video conference melalui Zoom Meeting pada pukul 16.30.

Dalam acara tersebut ada enam agenda. Pertama, penyampaian kinerja perseroan per 31 Desember 2020. Kedua, penjelasan opini disclaimer pada laporan keuangan audited 31 Desember 2020. Ketiga, aktivitas operasional dan permasalahan dengan karyawan.

Keempat, langkah-langkah dan hambatan yang dihadapi sehubungan dengan rencana memperbaiki kondisi keuangan perseroan dan memastikan kelangsungan usaha perseroan. Kelima, hal-hal yang bersifat material dan mempengaruhi keputusan investasi pemegang saham dan publik. Terakhir, penjelasan atas penyajian kembali laporan keuangan per 31 Desember 2019 dan 1 Januari 2019.

Garuda Indonesia baru saja menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dalam RUPS tersebut, pemegang saham menyetujui perombakan direksi dan komisaris. Di dewan direksi ada dua jabatan yang dipangkas dan dewan komisaris jumlahnya berkurang menjadi tiga orang.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, upaya pemangkasan jumlah direksi dan komisaris ini tak terhindarkan. Khusus untuk pemangkasan komisaris menurutnya merupakan permintaan Kementerian BUMN.

Namun pada pemangkasan jumlah direksi hal ini adalah buntut dari upaya pengurangan karyawan yang dilakukan. Garuda beberapa bulan ini sedang menawarkan para karyawannya untuk pensiun dini demi menghemat biaya pengeluaran.

"Silakan tanya ke Kementerian BUMN untuk komisaris. Namun, khusus direksi, ini mungkin upaya tak terhindarkan. Mengingat dari waktu ke waktu kami lakukan upaya pengurangan atau streamlining jumlah karyawan," kata Irfan dalam konferensi pers (13/8/2021).

"Maka tidak langsung kami streamlining ke direksi. Ini mungkin akan ada komplikasi, namun akan siap jalani ini," lanjutnya.

(acd/ara)