Right Issue Jumbo BRI Layak Ditebus?

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Rabu, 08 Sep 2021 15:22 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Right Issue PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) sudah melewati tanggal terakhir perdagangan saham dengan HMETD (Cum Date) di pasar reguler dan Pasar Negosiasi per 7 September 2021 kemarin. Bagi investor yang memiliki saham BBRI nanti dapat kesempatan menebusnya di harga murah.

Berdasarkan prospektus yang diterbitkan, bank pelat merah ini mematok harga pelaksanaan Rp 3.400/saham dengan rasio 100:23. Harga right issue ini masih lebih murah dibandingkan harga perdagangan pada Rabu (8/9/2021) ini sebesar Rp 3.810-3.750. Lantas, apakah right issue ini layak ditebus?

Pengamat Pasar Saham MNC Asset Management Edwin Sebayang menilai aksi korporasi BRI melalui right issue ini tentu akan berdampak baik pada kinerja perseroan. Hal ini juga akan memicu pertumbuhan bisnis baru sehingga sangat layak untuk di akumulasi beli.

"Right issue yang akan dilakukan dengan size cukup besar dengan tujuan untuk inbreng akan berdampak bagus untuk BRI karena akan membuat asset BRI menjadi lebih besar, modal akan menjadi lebih kuat sehingga makin banyak bisnis lama dan baru bisa dilakukan dan pada akhirnya akan meningkatkan Revenue dan Net Profit BRI," ujarnya belum lama ini.

Pasalnya, melalui right issue ini BRI menargetkan pendanaan sebesar Rp 41,2 triliun. Jika ditambah dengan penyerahan aset Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM) dari pemerintah, maka tambahan modal yang akan diperoleh oleh BRI adalah Rp 95,9 triliun. Hampir separuh dari ekuitas BRI pada tahun 2020 yang berjumlah Rp 194,7 triliun.

Adapun pemanfaatan dana segar yang dihimpun perseroan sebesar Rp 95,9 triliun ini nantinya akan diperuntukkan perusahaan untuk membentuk Holding Ultra Mikro bersama Pegadaian dan PNM. Hal ini disebut akan membuat ekosistem BRI di perbankan dan jasa keuangan mikro semakin komplit sehingga memberi sentimen positif bagi para pemegang saham.

Sebagai informasi, harga pelaksanaan right issue Rp 3.400 ini akan memberikan keuntungan bagi pemegang saham BBRI alias investor lama. Sebab, ada peluang bagi investor lama yang ingin menambah saham BBRI bisa memperoleh peluang membeli di harga right issue dengan rasio 100:23.

Sebagai contoh, apabila seorang investor ritel memiliki 10 lot atau 1.000 lembar saham BBRI, maka akan mendapatkan 230,12 HMETD. Namun, karena pembulatan maka HMETD yang diterima hanya 230 unit atau 2 lot ditambah 30 unit atau odd lot.

Setelah mendapatkan HMETD, bisa dieksekusi menjadi saham baru BRI dengan biaya Rp 3.400 per saham. Harga ini jauh lebih murah dibandingkan dengan harga saham BBRI yang terus bergerak di kisaran Rp 3.800-4.100 dalam beberapa pekan terakhir.

Adapun untuk teknis cara menebus atau menjual saham right BBRI, investor bisa cek langsung ke sekuritas masing-masing. Beberapa sekuritas telah menyediakan fitur di mobile apps-nya untuk menebus atau menjual saham right. Jika sekuritas belum menyediakan, kemungkinan investor harus pakai cara manual melalui form.

Sebagai informasi, tanggal terakhir perdagangan saham dengan HMETD (Cum date) di pasar tunai pada 9 September 2021. Kemudian Tanggal distribusi HMETD adalah 10 September 2021 dan pra-pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada 13 September 2021. Periode perdagangan HMETD yakni 13-22 September 2021.

(akd/hns)