Baru IPO, Bagaimana Prospek Bisnis RUNS?

Siti Fatimah - detikFinance
Sabtu, 18 Sep 2021 12:56 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Foto: Pradita Utama

Di sisi lain, RUNS dipandang punya keunikan dibandingkan dengan perusahaan rintisan atau startup teknologi lain. Bila startup lain harus jorjoran 'bakar uang' di awal menjalaknan bisnisnya guna menggaet pelanggan, RUNS tak perlu melakukan hal serupa. Masalahnya, jenis bisnis yang dilakoninya bersifat pengembangan sistem yang bisa langsung mendatangkan pemasukan tanpa perluang bakar uang.

"Kalau starup lain bakar uang dulu untuk bangun ekosistem dari kebiasaan nasabah, ini RUNS ini beda. Dia sampaikan memebrikan satu konsep dimana itu lagsung jadi cash," sambungnya.

Dengan konsep bisnis itu, investor tak perlu khawatir uang yang diinvestasikannya di RUNS bakal menguap karena terlalu banyak 'dibakar'.

Dalam kesempatan yang sama, Komisaris Utama CSA Institute, Djony Sianty mengatakan, positifnya prospek bisnis RUNS sebenarnya bisa dilihat dari mitra bisnis yang telah menggandeng RUNS dalam rangka digitalisasi proses bisnisnya. Tak tanggung-tanggung, RUNS saat ini tengah menggarap digitalisasi proses bisnis perusahaan telekomunikasi pelat merah PT Telkom.

Dari sini, lanjut Djony, prospek pengembangan bisnis RUNS akan meningkat seiring dengan pengembangan kerja sama yang dilakoni PT Telkom. Sederhananya, setiap mitra usaha yang bekerja sama dengan PT Telkom, secara tidak langsung akan juga ikut menggunakan sistem digital yang dibangun RUNS.

"Dia (RUNS) growing-nya by company. Saya lihat dengan bakckbonenya BUMN besar seperti Telkom, ini bisa jadi boosting yang kuat buat sistemnya sendiri," jelas dia.

Senada dengan Embun, Djony juga mengungkapkan keunggula RUNS yang tak perlu bakar uang untuk meningkatkan loyalitas pelanggannya.

"System ini (system yang dibangun RUNS) pas dia masuk jadi accepted. Nah akan susah untuk competitor lain utnuk masuk ke sistem RUNS, akan susah juga bagi konsumen untuk ganti sembarangan," beber dia.

Dari sisi aset, RUNS juga berbeda dengan perusahaan riil yang memiliki aset berwujud. Sebagai perusahaan informasi dan teknologi, aset RUNS diukur berdasarkan aset tak berwujud atau intangible asset.

Intangible asset sendiri dalam pengertian umum merupakan sumber daya di masa depan yang tidak berbentuk fisik tapi memiliki nilai tersendiri. Misalnya pada 2020 RUNS memiliki perputaran ekonomi mencapai Rp 13 triliun.

"Dia growing-nya by company. Saya lihat dengan bakckbone-nya BUMN besar, Telkom, ini bsia jadi boosting yang kuat buat sistemnya sendiri. Nah kalau masalah intengibel asset ini akan jadi perdebatan ini kemudian valuasi kemudian masuk asetnya. Tapi integibel asetnya pasti besar," terang Djony.

Masih dalam diskusi yang sama, Direktur Utama CSA Institute, Aria Santoso mengungkap keunggulan lain bisa jadi angin segar bagi perkembangan bisnis RUNS di masa depan.

Berbeda dengan perusahaan yang bergerak di sektor riil yang biaya produksinya naik seiring dengan meningkatnya skala bisnis karena harus meningkatkan konsumsi bahan baku dan biaya produksi lainnya, RUNS sebagai perusahaan teknologi bisa berkembang lebih efisien karena tak perlu meningkatkan belanja modal terlalu signifikan meski skala bisnisnya berkembang pesat.

"Developt software nggak ada linear dengan pendapatan kita. Revenue naik bsia sangat efisien, tapi nggak nambah belanja bahan baku," tandas dia.


(dna/dna)