Indosat Merger dengan Tri, RI Jangan Sampai Rugi Dua Kali

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 26 Sep 2021 19:11 WIB
Indosat Ooredoo
Foto: Dok. Indosat Ooredoo
Jakarta -

Perusahaan telekomunikasi Indosat Ooredoo (Indosat) dan Hutchison 3 Indonesia (H3I) resmi telah melakukan penggabungan usaha alias merger. Hal ini dilakukan pada 16 September yang lalu.

Kini perusahaan gabungan ini diberi nama PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison). Nah aksi korporasi merger ini menjadi sorotan, janji kampanye Preside Joko Widodo kembali diungkit.

Salah satu aktivis Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Marwan Batubara menyatakan Jokowi ketika ingin maju menjadi presiden di periode pertama pernah mengungkapkan ingin menggembalikan Indosat ke pangkuan Indonesia. Namun nyatanya kini makin menciut dengan adanya merger Indosat dengan Hutchison 3.

Aksi merger ini dinilai Marwan akan membuat Pemerintah Indonesia rugi dua kali. Rugi yang pertama karena terdelusinya kepemilikan pemerintah atas Indosat Oredoo dengan adanya merger. Rugi yang kedua karena tidak adanya kemanfaatan yang besar yang diperoleh pemerintah dari besarnya penguasaan asing atas spektrum frekuensi radio di Indosat dan H3I.

Menurut Marawan yang juga mengaku sebagai mantan karyawan Indosat ini, sejak Indosat dijual oleh mantan Presiden Megawati Soekarnoputri ke Singapura, Indosat hanya mau membangun di daerah yang menguntungkan.

Kini, Indosat dan H3I tidak memiliki komitmen untuk membangun jaringan telekomunikasi di daerah yang tidak ekonomis. Padahal masih banyak masyarakat Indonesia yang belum menikmati layanan telekomunikasi.

"Pemerintah dalam hal ini Kominfo memberikan kesempatan bisnis telekomunikasi di Indonesia kepada Ooredoo selaku pemilik mayoritas Indosat, namun mereka hanya menyasar di wilayah gemuk saja. Kominfo tidak memberikan kewajiban yang sepadan kepada Indosat dan H3I untuk membangun di daerah non ekonomis," papar Marwan dalam keterangannya, Minggu (26/9/2021).

"Padahal mereka menguasai aset bangsa kita yang sangat berharga yaitu frekuensi dalam jumlah yang relatif besar. Ini sangat tidak adil," pungkasnya.

Bersambung ke halaman selanjutnya.