Ketika Jokowi Janji Ambil Alih Indosat yang Kini 'Kawin' dengan Tri

Siti Fatimah - detikFinance
Minggu, 26 Sep 2021 21:35 WIB
Indosat Ooredoo dan Hutchison 3 Indonesia (H3I/Tri) sepakat untuk melakukan merger. Penggabungan dua entitas ini diklaim terbesar di Asia.
Foto: dok. Indosat
Jakarta -

Setelah penantian yang cukup lama, akhirnya PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT Hutchison 3 Indonesia (H3I) atau Tri resmi merger. Penggabungan itu ditandai dengan penandatanganan dari kesepakatan transaksi definitif yang dilakukan kedua induk perusahaan yakni Ooredoo dan CK Hutchison Holdings Limited pada 16 September lalu.

Bicara soal merger Indosat dengan Tri, publik kembali diingatkan dengan janji Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat momen Pemilihan Presiden 2014 silam yang akan membeli kembali saham Indosat.

Kilas balik berdasarkan catatan detikcom, Indosat lepas dari kepemilikan pemerintah sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada Desember 2002. Saat itu, saham mayoritas Indosat dijual kepada perusahaan negara tetangga, Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd (ST Telemedia).

Kejadian tersebut melekat diingatan masyarakat Indonesia tepatnya saat kepemerintahan dipimpin era Presiden Megawati Soekarnoputri. Melalui KemenBUMN, saat itu melakukan divestasi 517,5 juta saham, mewakili sekitar 50,0% dari saham Seri B dalam dua tahap.

"Pada bulan Mei 2002, Pemerintah menjual 8,1% dari saham kami yang beredar melalui tender global yang dipercepat. Pada bulan Desember 2002, Pemerintah melakukan divestasi 41,9% saham Seri B kami kepada mantan anak perusahaan STT Communications Ltd (STT)," dikutip dari laman resmi perusahaan, Minggu (26/9/2021).

Dalam catatan detikcom, STT membeli Indosat pada 15 Desember 2002 dengan uang US$ 630 juta atau sekitar Rp 5,62 triliun untuk pembelian 41,94% saham yang setara 434.250.000 saham seharga Rp 12.950 per saham.

Pada 2008 lalu ST Telemedia menjual seluruh saham PT Indosat Tbk kepada Qatar Telecom QSC (Qtel). Saat itu, Qatar merogoh dana 2,4 miliar dolar Singapura atau US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 16,740 triliun (kurs dolar Rp 9.300). Artinya, Singapura untung besar dengan penjualan saham Indosat itu.

Rencana pembelian kembali saham Indosat pun muncul pada saat Pilpres 2014 lalu. Dari catatan detikcom, Jokowi pernah mengungkapkan rencana membeli kembali saham Indosat yang dulu sempat dijual karena krisis ekonomi. Namun saat itu Jokowi punya syarat untuk membeli Indosat kembali.

"Kan kita sampaikan ada klausul buyback. Buyback itu tentu saja kalau harganya wajar dan sesuai, biasanya kalau pas, sahamnya itu pas lagi bagus-bagusnya pasti harga sweetener, minta yang paling manis, itu," kata Jokowi di sela kampanye di Pontianak, Kalimantan Barat, Senin, 23 Juni 2014.

Jokowi juga menyebutkan, untuk membeli lagi saham Indosat, syarat pertumbuhan ekonomi di atas 7% sangat penting. "Makanya saya sampaikan kalau bisa pertumbuhan bisa di atas 7%, membeli Indosat itu bukan sesuatu yang sulit," ucapnya saat itu.

Namun demikian, janji itu pun tak kunjung terealisasi. Pada periode kepemimpinan 5 tahun pertamanya pertumbuhan ekonomi tidak tercapai 7%. Di periode kedua, pertumbuhan ekonomi 7% tercapai dan kini Indosat merger dengan Tri bukan dibeli kembali.

Sekedar informasi, pada akhir transaksi penggabungan, Indosat Ooredoo Hutchison akan dikendalikan bersama-sama oleh Ooredoo Group dan CK Hutchison. Perusahaan gabungan akan tetap terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Pemerintah Indonesia memiliki 9,6% saham, PT Tiga Telekomunikasi Indonesia memiliki 10,8% saham, dan pemegang saham publik lainnya memiliki kira-kira 14,0% saham. Menyusul transaksi di atas, Para Pihak akan masing-masing memiliki 50% dari Ooredoo Asia, yang akan diberi nama baru yaitu Ooredoo Hutchison Asia dan memiliki 65,6% saham dan kendali atas Indosat Ooredoo Hutchison.

(dna/dna)