Disney+ Nggak Bantu, Saham Disney Anjlok Parah Sampai 7%

Siti Fatimah - detikFinance
Jumat, 12 Nov 2021 08:45 WIB
Traders work on the trading floor on the final day of trading for the year at the New York Stock Exchange (NYSE) in Manhattan, New York, U.S., December 29, 2017. REUTERS/Andrew Kelly
Disney+ Nggak Bantu, Saham Disney Anjlok Parah Sampai 7%
Jakarta -

Saham Disney anjlok 7% di bursa saham Wall Street pada Kamis (11/11). Hal itu merupakan sesi terburuk Disney sejak Juni 2020, setelah raksasa media itu melaporkan perlambatan pertumbuhan pelanggan dalam layanan streamingnya, yakni Disney+.

Dilansir dari CNBC, Jumat (12/11/2021), saham Disney juga lebih buruk di indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA). Saham Disney jatuh 20% dari puncaknya Maret lalu.

Tetapi para investor terpecah menjadi dua, apakah mereka harus melakukan aksi jual atau membuka peluang dengan membeli saham lebih banyak. Pendiri Fairlead Strategies Katie Stockton mengatakan, penurunan pada hari Kamis kemarin dinilai sebagai kesempatan untuk membeli dengan harga diskon.

"Shakeout pada dasarnya adalah gangguan yang salah dan ini sebenarnya adalah langkah yang menarik bagi saya untuk dilihat dari Disney karena sudah sangat lamban sejak Maret," kata Stockton.

"Ada support pada grafik antara sekitar $153 dan $155 dan resistance berikutnya naik di sekitar MA 200-hari. Jadi saya pikir itu agak menarik, meskipun tidak sepenuhnya bebas risiko, untuk menambah kelemahan semacam ini," sambungnya.

Disney ditutup pada Kamis (11/11) tepat di atas US$ 162 atau Rp 2,3 juta. Untuk mencapai target resistensi Stockton maka perlu reli sekitar 11%, rata-rata pergerakan 200 hari di US$ 180 atau Rp 2,5 juta.

Namun, kepala teknisi pasar Piper Sandler, Craig Johnson, memutuskan untuk menunda membeli saham Disney. Dia melihat potensi akan lebih banyak kelemahan sebelum penjualan berakhir.

"Mickey Mouse tidak pernah ketinggalan zaman, tetapi dalam hal grafik di sini hari ini, saya ingin menunggu mereka melakukan izin sedikit lebih jauh," kata Johnson dalam wawancara yang sama.

"Ini dalam tren turun yang jelas dalam pekerjaan kami. Saya pikir kita akan memiliki kesempatan untuk membelinya lebih rendah daripada di sini dalam beberapa minggu atau bulan ke depan," sambungnya.

Dia menjelaskan lebih lanjut bahwa pengujian ulang dari ujung bawah saluran harga turun di US$ 158 adalah mungkin. Itu diperdagangkan serendah US$ 158,33 per saham atau sekitar Rp 2,2 juta (asumsi kurs dolar Rp 14.260) pada Kamis.

(fdl/fdl)