Kode Broker Ditutup, Apa yang Ditakutkan Investor?

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 16 Des 2021 15:59 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada penutupan perdagangan di BEI Jumat (19/11). IHSG berada pada level 6.720,26.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Pelaku pasar kini sudah tidak bisa lagi melihat data transaksi kode broker selama perdagangan saham berlangsung. Kebijakan ini diterapkan oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 6 Desember yang lalu.

Sejak kebijakan ini masih dalam tahapan rencana, hiruk-pikuk di kalangan pelaku pasar pun sudah terjadi. Banyak dari pelaku pasar yang menolak kebijakan itu.

Menurut Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono W. Widodo penolakan itu terjadi karena banyaknya investor ritel yang sudah terbiasa dengan herding behavior, atau aksi ikut-ikutan dalam menentukan keputusan transaksi saham. Mereka hanya mengikuti broker-broker tertentu untuk memutuskan membeli atau menjual saham.

Ketika data transaksi kode broker ditutup, para investor ritel yang terbiasa dengan herding behavior khawatir tidak bisa menentukan keputusan transaksi yang tepat. Padahal salah satu alasan BEI melakukan itu agar mendorong pelaku pasar terutama investor ritel agar memilih saham berdasarkan fundamentalnya.

"Saya di industri sejak awal 90-an ya, ya tahunya kalau mau trading itu kode broker itu ada dan ini juga digunakan oleh beberapa investor untuk membuat analisa. Kalau broker A beli ini kita juga bisa ikut-ikutan, kalau si B jual ini kita juga bisa ikut-ikut jual. Nah ini tiba-tiba nggak ada, tentunya ini menimbulkan kegamangan bagi mereka yang sudah terbiasa," terangnya saat berbincang dengan detikcom, ditulis Kamis (16/12/2021).

Laksono mengibaratkan penutupan kode broker ini seperti kebijakan yang mengharuskan pengemudi sepeda motor menggunakan helm. Memang terasa tidak nyaman jika sudah terbiasa tidak menggunakan helm, namun itu demi keselamatan.

"Seperti dulu kan pernah naik motor tiba-tiba suruh pakai helm gitu ya. Nah itu kan buat yang pertama-tama pakai helm kan nggak enak ya, rasa sempit, pengap, panas suaranya nggak kedengeran, tapi kan demi kebaikan bersama. Kurang lebih seperti itu," terangnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Simak juga Video: FinanSiap: Wadah Edukasi Untuk Para Investor Muda

[Gambas:Video 20detik]