ADVERTISEMENT

Nilai Perusahaan Tembus Rp 42 Ribu T, Saham Apple Diserbu Investor

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 04 Jan 2022 11:35 WIB
SINGAPORE, SINGAPORE - SEPTEMBER 24: People try out newly released products at the Apple Store in Orchard Road on September 24, 2021 in Singapore. Apple announced September 14 the release of four variants of its latest iPhone 13, alongside other upgrades to its product lineup. (Photo by Feline Lim/Getty Images)
Foto: Feline Lim/Getty Images
Jakarta -

Apple menjadi perusahaan publik di Amerika Serikat yang pertama kali menyentuh nilai pasar sampai US$ 3 triliun atau mencapai Rp 42.600 triliun. Hal itu terjadi setelah reli harga saham pabrikan iPhone itu selama berminggu-minggu.

Sejak pertengahan November, saham Apple telah meningkat lebih dari 20%, membawa nilai perusahaan menjadi US$ 3 triliun. Dilansir dari Bloomberg, Selasa (4/1/2022), investor nampaknya mulai beralih ke saham Apple di tengah ketidakpastian pasar.

Beberapa pihak menyebutkan lonjakan saham Apple dapat dijelaskan sebagai taruhan safe-haven. Saham Apple dinilai menjadi tempat paling aman untuk melakukan investasi. Apalagi ketika Bank Sentral AS Federal Reserve mulai menarik stimulus moneter.

Teorinya adalah investor akan membuang saham yang rasio harga terhadap penjualannya menyusut, dan mencari perlindungan di Apple macam komoditas emas.

Pola pikir itu bisa dimengerti. Dengan neraca keuangannya sekitar US$190 miliar dalam bentuk tunai, Apple dapat menahan hampir semua skenario ekonomi yang suram.

Tetapi penilaian dan fundamental pada akhirnya akan menjadi masalah lagi, tidak serta merta saham Apple bebas risiko. Faktanya, Apple sangat rentan terhadap salah satu kekhawatiran ekonomi makro terbesar untuk 2022 yaitu inflasi.

Tidak seperti perusahaan perangkat lunak dan internet, bisnis utama perusahaan melibatkan penjualan produk perangkat keras fisik. Itu berarti jika upah, pengiriman, dan biaya bahan baku terus meningkat, kinerja keuntungan Apple akan berkurang.

Kemudian bila iPhone dan Mac dijual dengan harga tinggi dibandingkan dengan pesaing terdekat mereka, perusahaan memiliki kemampuan terbatas untuk menaikkan harga lebih jauh. Banyak konsumen dapat dengan mudah menunda pembelian smartphone seharga US$ 1.000 dengan memegang iPhone mereka saat ini lebih lama.

Di luar faktor ekonomi eksternal, prospek Apple diragukan telah meningkat secara dramatis untuk membenarkan reli terbaru. Ingatlah bahwa pada akhir Oktober, raksasa teknologi itu meleset dari ekspektasi penjualan analis untuk tiga bulan yang berakhir pada September.

Laporan terbaru menunjukkan tahun ini kinerja investasi saham Apple idak terlihat jauh lebih baik. Akhir November di sebuah konferensi investor, kepala bisnis nirkabel AT&T Inc. mengatakan dia memperkirakan pertumbuhan pelanggan tidak akan sekuat pada 2022. Itu bukan pertanda baik bagi Apple.

Hari berikutnya, Bloomberg News melaporkan bahwa perusahaan telah memberi tahu pemasoknya bahwa permintaan iPhone melambat.

(hal/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT