Awas! Ada Gelembung Saham Raksasa di Bursa AS

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 25 Jan 2022 11:43 WIB
Traders work on the trading floor on the final day of trading for the year at the New York Stock Exchange (NYSE) in Manhattan, New York, U.S., December 29, 2017. REUTERS/Andrew Kelly
Ilustrasi/Foto: Reuters
Jakarta -

Memasuki 2022, pasar saham mengawali dengan kondisi yang sulit. Contohnya, bursa saham terbesar, Nasdaq telah mengalami koreksi lebih dari 10%.

Salah satu pendiri dan kepala strategi investasi Grantham, Mayo, & van Otterloo (GMO), Jeremy Grantham mengatakan saat ini pasar saham AS berada di posisi gelembung besar atau superbubble. Situasi saat ini disebut dampaknya akan lebih lama dari sebelumnya.

"Gelembung super ini terkoreksi kembali ke tren dengan rasa sakit yang jauh lebih besar dan lebih lama daripada rata-rata," tulis Grantham dikutip dari CNN, Selasa (25/1/2022).

Gelembung saham adalah situasi harga saham naik di luar kebiasaan namun dengan waktu yang cepat.

Sebelumnya, pasar saham AS telah mengalami superbubble pada 1929 yang menyebabkan Great Depression. Lalu pada 2000 ketika gelembung dot-com meledak.

Terakhir pada 2006, di mana saham properti di AS mengalami superbubble. Fenomena tersebut terulang lagi sekarang.

Grantham percaya kebijakan Bank Sentral AS/Federal Reserve yang memangkas suku bunga menjadi nol dan kemudian mempertahankan hampir dua tahun merupakan penyebab utama dari ketidakstabilan pasar saham. Sementara The Fed diperkirakan mulai menaikkan suku bunga pada Maret 2022.

Lihat juga video 'Blak-Blakan Oscar Darmawan, Kripto Cuma Alternatif Investasi':

[Gambas:Video 20detik]



(ara/ara)