Khawatir Beijing Lockdown, Pasar Saham dan Harga Minyak 'Ambruk'!

ADVERTISEMENT

Khawatir Beijing Lockdown, Pasar Saham dan Harga Minyak 'Ambruk'!

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 26 Apr 2022 08:32 WIB
Residents line up for a coronavirus test inside barricaded residential buildings locked down for monitoring following a COVID-19 case detected in the area Monday, March 28, 2022, in Beijing. China began its largest lockdown in two years Monday to conduct mass testing and control a growing outbreak in its largest city of Shanghai as questions are raised about the economic toll of the nations
Foto: AP/Andy Wong

Menurutnya, China adalah ekonomi terbesar kedua di dunia dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan hidup dengan virus.

"Dengan mengingat hal itu, kemungkinan katup tekanan akan menjadi gangguan pada mesin ekspor China, dan penurunan kepercayaan konsumen," ujar Halley.

Harga minyak juga jatuh pada hari Senin karena kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga AS yang lebih cepat dan juga sentimen perlambatan China.

Harga minyak berjangka lokal di AS dan minyak mentah Brent yang menjadi patokan internasional, keduanya turun lebih dari 4%.

"Tampaknya China adalah gajah di dalam ruangan dan pasar merasa bahwa perlambatan pertumbuhan China dapat secara material mengubah persamaan penawaran atau permintaan di pasar internasional," kata Halley.

Tekanan untuk menahan wabah COVID-19 di Beijing datang ketika kasus terus berkembang di Shanghai. Kebijakan lockdown di Shanghai telah memaksa banyak pabrik untuk menangguhkan produksi dan memperburuk penundaan pengiriman.

Hal ini akan memberikan kejutan serta ancaman besar bagi ekonomi secara luas dan menempatkan lebih banyak tekanan pada rantai pasokan global.


(hal/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT