ADVERTISEMENT

IHSG Jeblok, Mitos 'Sell In May and Go Away' Terjadi?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 10 Mei 2022 16:01 WIB
Woman looking stock market Data on smart phone
Foto: Getty Images/iStockphoto/Orientfootage
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona merah karena anjlok cukup tajam. Analis menilai kondisi ini membuat mitos 'Sell In May And Go Away' terjadi.

Analis Edwin Sebayang mengungkapkan IHSG memang tertekan dengan aksi jual yang terus terusan terjadi. Bahkan dia memprediksi jika indeks akan turun hingga di bawah level 6900.

"Mitos 'Sell In May And Go Away' nampaknya terjadi di tahun ini, setelah Senin IHSG terjungkal cukup tajam, Selasa ini awan mendung tekanan jual di Bursa Indonesia diperkirakan masih berlangsung membuat IHSG diperkirakan akan turun dibawah level 6900 menyusul kembali tajamnya kejatuhan Indeks di Wall Street di hari Senin dimana Indeks DJIA turun nyaris -2% sementara Indeks saham berbasis teknologi Nasdaq jatuh lebih tajam sebesar -4,3%," kata dia dalam risetnya, Selasa (10/5/2022).

Edwin mengungkapkan, perkiraan tekanan jual di Bursa Indonesia ini diperparah dengan runtuhnya harga beberapa komoditas seperti WTI Crude Oil yang minus 7,47%, emas minus 1,58%, batu bara minus 1,35%, CPO minus 0,57% dan nikel yang minus hingga 7,9%.

Ekonom dan Praktisi Pasar Modal Lucky Bayu Purnomo mengungkapkan mitos tersebut terjadi, meskipun saat ini masih awal Mei. Dia memprediksi kondisi terburuk bisa selesai pada akhir Mei.

Lucky mengungkapkan, jika indeks menuju level 6500 maka kondisi Sell In May And Go Away bisa selesai. "Lebih cepat indeks menuju 6500 maka itu selesai, karena sudah menguji kondisi pasar," jelas dia.

Karena itu, jika indeks sudah tembus level 6500 maka, investor bisa mulai menyiapkan uang dan masuk lagi ke pasar. Namun memang juga harus waspada dan jangan terburu-buru.

Sell In May And Go Away sendiri merupakan sebutan yang umum di telinga pelaku pasar modal. Kalimat itu merupakan sebutan untuk kondisi pada momen tertentu dalam hal ini bulan Mei, ketika pasar saham turun. Sebutan itu juga merujuk pada aktivitas kebanyakan pelaku pasar yang cenderung melakukan aksi jual untuk menghindari kerugian.

Dia menambahkan mitos Sell In May And Go Away ini terjadi karena secara periodik ada beberapa indikator yang terjadi bersamaan pada bulan Mei. Seperti pengumuman pertumbuhan ekonomi dan laporan-laporan lainnya.

Selain itu juga ada andil dari Januari effect yang sebelumnya banyak yang melakukan restrukturisasi portofolio. "Sehingga likuiditas tinggi pada Januari sampai April. Kemudian masuk ke Mei, wajar terjadi koreksi yang dilakukan untuk jangka menengah," jelas dia.



Simak Video "Jokowi Akan Setop Ekspor Bauksit, Tembaga, dan Timah"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT