ADVERTISEMENT

Dolar AS Tembus Rp 15.000, BI Ungkap Biang Keroknya

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 06 Jul 2022 10:18 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia, lgo bank indonesia, bi, gedung bank indonesia di Jakarta
Dolar AS Tembus Rp 15.000, BI Ungkap Biang Keroknya/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah siang ini per 10.16 WIB menyentuh level Rp 15.010 berdasarkan data Reuters. Penguatan dolar AS terhadap rupiah terjadi beberapa hari belakangan hingga menembus Rp 15.000 hari ini.

Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Edi Susianto mengungkapkan tekanan pada mata uang harus dilihat pemicunya. Pemicu utama penyebab tekanan rupiah datang dari pasar keuangan global. Pelaku pasar global khawatir akan terjadinya perlambatan lebih jauh atas ekonomi global, bahkan khawatir bisa masuk ke kondisi resesi.

"Khususnya ekonomi AS di mana data yang terkini sepertinya mendukung terhadap kekhawatiran tersebut, sementara ancaman inflasinya terus menghantui di banyak negara," kata dia saat dihubungi, Rabu (6/7/2022).

Edi mengungkapkan kondisi ini turut mendorong pelaku pasar global untuk terus mencari mata uang dan aset yang aman (safe haven). Nah mata uang safe haven ini lebih condong ke dolar AS. Bahkan indeks dolar AS terus menguat sudah di atas 106, tertinggi selama 20 tahun terakhir.

"Sementara safe haven assets condong ke cash market dan ke US Treasury (UST bond), sehingha yield UST 10 year terus mengalami penurunan (UST menguat)," tuturnya.

Artinya dari pergerakan nilai tukar, banyak mata uang non dolar AS khususnya mata uang negara berkembang melemah, termasuk rupiah.

"Di wilayah Asia, selain Rupiah mata uang lainnya seperti Thailand Baht, Malaysia Ringgit, Peso Philipina, India Rupee dan Korea Won, juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Artinya ini adalah fenomena global," jeas dia.

Untuk menghadapi hal ini BI memastikan ada di pasar melalui triple intervention agar mekanisme pasar dapat bekerja dengan baik melalui menjaga keseimbangan supply dan demand valas di market.

Terkait hal ini, BI melihat support dari perusahaan eksportir untuk turut menjaga supply-demand valas masih sangat baik, sehingga pelemahan rupiah lebih managable.

"Lalu menjaga kondisi likuiditas Rupiah dalam level yang optimal," jelasnya.

Lihat juga video 'Rupiah Makin Keok, Dolar AS Nyaris Rp 15.000':

[Gambas:Video 20detik]



(kil/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT