ADVERTISEMENT

Kronologi Lengkap Pendirian Blue Bird Versi Elliana Wibowo

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 19 Agu 2022 11:29 WIB
Elliana Wibowo, Penggugat Blue Bird Rp 11 triliun
Elliana Wibowo/Foto: Anisa Indraini/detikcom
Jakarta -

Elliana Wibowo merupakan orang di balik gugatan Rp 11 triliun yang ditujukan ke PT Blue Bird Tbk. Dia menggugat raksasa taksi biru itu karena memiliki sengketa soal kepemilikan saham.

Elliana mengaku dirinya sebagai pemegang saham karena merupakan anak pendiri Blue Bird, namun perusahaan malah enggan mengakuinya. Dia pun membeberkan kronologi pendirian perusahaan taksi tersebut hingga awal mula kemunculan sengketa antara dirinya dan perusahaan.

Menurut penjelasan Elliana Wibowo, mendiang ayahnya, Surjo Wibowo yang pertama kali mendirikan Blue Bird pada 1971 dengan nama PT Sewindu Taxi dari PT Semuco. Perusahaan itu mendapat izin sebagai transportasi ber-argometer dari Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin.

"Adanya klaim dari manajemen Blue Bird, saudara Sigit Suharto Djokosoetono dan saudara Yusuf Salman bahwa Blue Bird Group adalah milik satu keluarga saja yaitu Mutiara Djokosoetono adalah sebuah penyesatan informasi dan pembohongan publik," papar Elliana kepada wartawan di Madame Delima Cafe, Jakarta Pusat, Kamis (18/8/2022).

Elliana menjelaskan bahwa Surjo Wibowo adalah seorang pengusaha terkenal dari Ponorogo dan Surabaya. Pada akhir 1940-an mereka pindah ke Jakarta dan meneruskan usaha-usahanya seperti pabrik rokok, pabrik batik, pabrik kembang api, transportasi, importir makanan, serta perhiasan.

"Almarhum Surjo Wibowo bersama istrinya, Janti Wirjanto, yang juga putri pengusaha besar dari Pekalongan, sejak 1950-an telah berkecimpung dalam bidang usaha transportasi yaitu perbengkelan, Suburban, Taxi limousine, dan mendapatkan penunjukan langsung dari Presiden Soekarno untuk melayani transportasi Asian Games tahun 1962 serta memiliki dealership mobil Eropa," kisah Elliana.

Pada 1968, kata Elliana, keluarga Mutiara Djokosoetono mendatangi kediaman Surjo Wibowo untuk menitipkan dua buah kendaraan mobil bekas karena mengetahui bahwa Surjo Wibowo merupakan pengusaha transportasi besar di Jakarta yang telah memiliki izin taksi resmi beserta pool dan segala fasilitasnya.

"Sebenarnya kala itu bisa saja keluarga Surjo Wibowo menolak permohonan dari Mutiara Djokosoetono dan keluarganya karena kami sudah punya berpuluh-puluh mobil, tapi karena keluarga mereka saat itu datang waktu hujan ke kediaman kami, keluarga Surjo Wibowo pun tidak tega langsung memberikan bantuannya kepada mereka," turur Elliana.

Singkat cerita, keluarga Surjo Wibowo dan keluarga Mutiara Djokosoetono sepakat mendirikan perusahaan bernama PT Sewindu Taxi. Saat itu perusahaan tersebut diklaim dengan mudah mendapat pinjaman dana usaha dari beberapa bank terkemuka di Jakarta karena kredibilitas Surjo Wibowo.

Dengan perkembangan perusahaan Taxi yang semakin membaik, pada tahun 1980-an para pendiri PT Sewindu Taxi sepakat melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mengubah namanya menjadi PT Blue Bird Taxi. Dalam perjalanannya perusahaan tersebut telah memiliki berbagai anak usaha antara lain PT Big Bird, PT Ziegler Indonesia, Hotel Holiday Resort (Lombok), hingga RITRA Warehouse.

"Sebenarnya pendiri utama Blue Bird Taxi yang awalnya bernama PT Sewindu Taxi/PT Semuco adalah Surjo Wibowo dan Mutiara Djokosoetono," tegas Elliana.

Sekitar awal tahun 1980 sampai dengan awal tahun 2000, beberapa pemegang saham dalam Blue Bird menjual kepemilikan sahamnya, yang diikuti dengan penjualan saham dari beberapa perusahaan lainnya yang dibeli oleh keluarga dr. Purnomo Prawiro dan Alm dr. Chandra Suharto.

Awal sengketa Blue Bird di halaman berikutnya.

Simak juga Video: Kala Tjahjo Ingin Gaet Bos Blue Bird Jadi PNS Tapi Kandas karena Gaji

[Gambas:Video 20detik]




ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT