ADVERTISEMENT

Bos Tewas Diduga Lompat dari Apartemen, Saham Bed Bath & Beyond Anjlok 20%

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Rabu, 07 Sep 2022 09:32 WIB
Woman looking stock market Data on smart phone
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/Orientfootage
Jakarta -

Salah satu Eksekutif Bed Bath & Beyond, Gustavo Arnal meninggal diduga lompat dari gedung apartemennya. Kondisi ini berimbas pada saham ritel tersebut yang anjlok hampir 20% dalam perdagangan.

Kepolisian New York mengatakan, Kepala Keuangan atau Chief Financial Officer (CFO) toko ritel tersebut lompat dari gedung apartemen mewah di Tribeca, Manhattan pada Jumat sore. Ia ditemukan tak sadarkan diri di samping gedung 57 lantai itu.

Istri Arnal diketahui menyaksikannya melompat. Sementara itu, polisi mengatakan meski tidak ada catatan bunuh diri yang ditemukan, tidak ada dugaan kriminalitas.

Ketua Independen Dewan Direksi Bed Bath & Beyond Harriet Edelman mengungkapkan kesedihan dan bela sungkawa terkait kematian Gustavo.

"Saya ingin menyampaikan belasungkawa tulus kami kepada keluarga Gustavo. Fokus kami adalah mendukung keluarganya dan timnya dan pikiran kami bersama mereka selama masa sedih dan sulit ini. Silahkan bergabung dengan kami untuk menghormati privasi keluarga," kata Edelman dalam sebuah pernyataan dikutip dari CNN, Rabu (7/9/2022).

Kini, Bed Bath & Beyond berada dalam krisis keuangan yang mendalam dan sedang mencoba menyelamatkan diri dari kebangkrutan. Toko ritel ini mengatakan pekan lalu, mereka akan memberhentikan sekitar 20% karyawan, menutup 150 toko, dan memangkas beberapa merek barang rumah tangga.

Perusahaan juga mengatakan, telah mendapatkan lebih dari US$ 500 juta pembiayaan baru untuk menopang kesulitan keuangannya. Pada Selasa kemarin, perusahaan telah menunjuk Laura Crossen, Wakil Presiden Keuangan sebagai CFO sementara dan akan melanjutkan perannya sebagai pejabat akuntansi utama.

Perlu diketahui, Arnal bergabung dengan Bed Bath & Beyond pada Mei 2020 setelah berkarier di bidang keuangan di Avon, Walgreens Boots Alliance (WBA), dan Procter & Gamble (PG).

Sebelumnya, Arnal disebut sebagai terdakwa dalam gugatan class action yang menuduhnya, Ryan Cohen dan pemegang saham besar lainnya terlibat dalam skema 'pump and dump' untuk menaikkan harga saham perusahaan secara artifisial. Gugatan itu diajukan bulan lalu di Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Columbia.

Gugatan tersebut mengklaim bahwa Arnal dan yang lainnya membuat pernyataan yang menyesatkan dan lalai ketika berkomunikasi dengan investor mengenai rencana strategis dan kondisi keuangan perusahaan, serta menunda pengungkapan informasi soal memegang dan menjual saham mereka.

Gugatan itu juga menuduh para pemangku kepentingan itu melakukan pemalsuan angka pendapatan dan rencana perusahaan melepaskan merek Buy Buy Baby adalah untuk memicu kegilaan pembelian saham.

Lihat juga video 'Diduga Depresi, Wanita Loncat dari Apartemen di Semarang':

[Gambas:Video 20detik]



(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT