Tunggu The Fed, Saham Tech Diramal Bakal Jadi Market Leader Global

ADVERTISEMENT

Tunggu The Fed, Saham Tech Diramal Bakal Jadi Market Leader Global

Erika Dyah Fitriani - detikFinance
Selasa, 10 Jan 2023 14:45 WIB
Pekerja berjalan dengan latar belakang layar pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (8/4/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari Jumat (8/4) sore ditutup naik 83,46 poin atau 1,17 persen menembus level  7.210. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
Jakarta -

Pelaku pasar modal global memperkirakan saham-saham teknologi dunia pada akhirnya akan bangkit dan menjadi pemimpin pasar. Hal ini seiring langkah bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), yang diharapkan mampu mengendalikan inflasi demi pemulihan ekonomi.

Tren pembalikan arah saham teknologi dunia juga mulai tampak dari pergerakan dua indeks acuan di bursa saham AS, Wall Street (New York Stock Exchange dan Nasdaq) yakni Indeks S&P 500 dan Indeks Nasdaq 100.

Berdasarkan data perdagangan Wall Street, Senin (9/1), Nasdaq 100 ditutup di 11.110. Levelnya naik dari 3 Januari sekitar 10.794 kendati belum balik ke periode Agustus 2022 di level 13.500-an.

Sementara itu, S&P 500 melesat dalam 5 hari terakhir di level 3.900 di 9 Januari, dari 3.804 di 3 Januari meski belum balik ke level Agustus 4.300-an.

"Pada akhirnya, jika nantinya inflasi terkendali, (saham) teknologi berpeluang menjadi pemimpin pasar, tetapi The Fed masih mempertimbangkan kebijakan setidaknya selama enam hingga delapan bulan lagi," kata Kepala Investasi di Independent Advisor Alliance, Chris Zaccarelli, dikutip dari Bloomberg, Selasa (10/1/2023).

Di pasar modal Indonesia, IDXTECHNO yang berisi saham-saham teknologi di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini belum balik arah kendati peluang itu tetap terbuka. Indeks saham teknologi di BEI ini masih bergerak di level 5.100,907. Tren ini melandai dalam 5 hari terakhir dari sebelumnya di tanggal 3 Januari di level 5.240.

Beberapa saham teknologi papan atas yang masuk indeks tersebut, di antaranya PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Bukalapak Tbk (BUKA), dan PT Global Digital Niaga Tbk (BELI).

Pulihnya saham teknologi juga terlihat dari gerak saham GOTO sepekan lalu (2-6 Januari) yang berakhir di zona hijau, sejalan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 0,46% ke 6.684,558 pada Jumat (6/1).

Saham GOTO saat itu melesat 3,26% di Rp 95/saham dan 9 hari terakhir melejit 46,66% dengan akumulasi beli investor. GOTO menjadi penyumbang kedua bagi IHSG (daily movers) setelah PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Posisi ketiga ada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) diikuti PT Astra International Tbk (ASII).

Manajer Portofolio di Hodges Capital Management di Dallas, Texas, Gary Bradshaw mengatakan arah kebijakan bank sentral AS masih menjadi penggerak utama kinerja saham global. Di awal tahun ini, bursa saham AS sebetulnya mulai optimistis dan naik seiring dengan spekulasi bahwa perlambatan pertumbuhan upah tenaga kerja AS akan memicu The Fed melonggarkan agresivitas sehingga tidak menaikkan suku bunga.

Namun, catatan rapat komite The Fed (Federal Open Market Committee/FOMC) soal kemungkinan The Fed masih akan bersikap hawkish (agresif) menaikkan suku bunga di 2023 guna memerangi inflasi hingga turun di bawah 2% membuat pasar khawatir.

Pekan pertama Januari ini, sektor industri memang bangkit seiring data laporan ketenagakerjaan terbaru AS yang menunjukkan perlambatan dan kenaikan upah. Ini menjadi spekulasi bahwa The Fed akan segera menyelesaikan pengetatan kebijakannya.

Apalagi, teknologi menjadi sektor yang paling anjlok akibat kenaikan suku bunga The Fed. Jadi tidak mengherankan, Indeks Nasdaq 100 pada pekan ini mulai mencatatkan kinerja terbaik sejak 30 November 2022.

"Bahkan kemajuan kecil valuasi teknologi akan berarti bagi bursa saham AS. Ini menjadi sentimen positif, tidak hanya untuk investor teknologi tapi juga bagi indeks S&P secara lebih luas," kata Gary Bradshaw.

Kejelasan lebih lanjut soal The Fed ini akan dinantikan investor pekan ini. Selama ini, kenaikan suku bunga ialah cara The Fed menangani inflasi. Saat suku bunga naik, biaya pinjaman yang tinggi membuat orang menurunkan permintaan kredit sehingga diharapkan bisa menurunkan inflasi.

Saat ini, kapitalisasi pasar Indeks S&P 500 sudah berkurang 6,7% pada awal Desember hingga Kamis (5/1). Kontributor terbesar koreksi ini disumbang dua raksasa teknologi, Apple Inc dan Tesla Inc, yang porsinya sepertiga dari penurunan itu.

Hanya saja, analis menilai, perlambatan ekonomi yang akan mendorong The Fed tak lagi menaikkan suku bunga juga punya risiko. Apple misalnya, menurunkan pesanan komponen untuk sejumlah produknya karena permintaan melambat seperti dilaporkan Nikkei. Analis UBS juga mempertanyakan prospek pertumbuhan bisnis cloud-computing Microsoft Corp, sementara Tesla juga masih pusing dengan penurunan penjualan di China.

Di sisi lain, beberapa investor percaya bahwa kejatuhan saham teknologi global menjadi kesempatan menarik untuk dibeli di harga saat ini.

"Investor, jika sudah berinvestasi [di saham teknologi], bisa hold sampai menunggu pemulihan dan investor baru bisa mempertimbangkan untuk masuk menjadi peluang," kata Head - Products & Alternatives, Axis AMC, Ashwin Patni yang dilansir Financial Express



Simak Video "Senangnya Jokowi, Pasar Modal RI Dikuasai Investor Muda"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT