×
Ad

Kolom

Krisis Nilai Tukar dari Generasi ke Generasi

Muhammad Syarkawi Rauf - detikFinance
Rabu, 28 Jan 2026 13:32 WIB
Foto: Getty Images/Molas Images
Jakarta -

Krisis nilai tukar pasca-kesepakatan Bretton woods system tahun 1944 telah terjadi dalam tiga generasi krisis. Dimulai dari krisis nilai tukar generasi pertama pada tahun 1980-an yang berpusat di negara-negara Amerika Latin, yaitu Chili, Brasil, Meksiko, dan Argentina. Negara-negara tersebut menganut regim nilai tukar tetap terhadap dolar AS.

Krisis nilai tukar generasi pertama bermula dari aliran hot money yang besar ke negara-negara Amerika Latin. Lalu, terjadi tsunami aliran modal keluar jangka pendek (hot money) karena dipicu oleh kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada era Paul Volcker, ketua The Fed, sebagai respon terhadap inflasi ekstra tinggi di AS pada tahun 1979.

Saat itu, peningkatan suku bunga dolar AS juga diikuti oleh penurunan ekstrim harga komoditas. Hal ini menyebabkan negara-negara Amerika Latin tidak mampu membayar utang yang menggelembung dari 125 menjadi US$ 800 miliar pada akhir 1979.

Selanjutnya, krisis nilai tukar generasi kedua tahun 1994 berpusat di Meksiko. Dimulai dari aliran modal masuk sangat besar setelah Meksiko bergabung dengan North Atlantic Free Trade Area (NAFTA). Privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meningkatkan efisiensi BUMN-nya sehingga menarik masuknya investor asing dalam jumlah besar.

Namun, langkah tersebut masih disertai masalah kredibilitas pemerintah Meksiko menjaga nilai tukar tetap, terutama karena tingginya defisit neraca transaksi berjalan. Nilai tukar peso Meksiko akhirnya mengalami depresiasi ekstrim hingga 50% karena aliran keluar hot money yang sangat besar.

Kondisi ini memaksa pemerintah Meksiko mendevaluasi mata uangnya. Kepercayaan investor terhadap peso Meksiko hilang yang membuat pemerintahnya meminta bantuan International Monetary Fund (IMF) pada awal tahun 1995.

Sementara, krisis generasi ketiga terjadi di negara-negara Asia pada tahun 1997 yang berpusat di Thailand, Indonesia, Pilipina, Malaysia dan Korea Selatan. Krisis terjadi pada saat negara-negara Asia mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi, inflasi rendah, defisit anggaran kurang dari 3,0% Gross Domestic Product (GDP), dan surplus neraca transaksi berjalan.

Krisis nilai tukar generasi ketiga juga diawali oleh aliran masuk hot money sangat besar ke negara-negara Asia karena investor asing tergiur oleh pertumbuhan ekonomi tinggi. Pada tahap selanjutnya diikuti oleh aliran modal keluar yang meruntuhkan regim nilai tukar tetap.

Krisis Asia 1997 berbeda dengan krisis generasi pertama dan kedua di Amerika Latin. Krisis Asia 1997 adalah krisis nilai tukar yang sangat luas karena menjalar ke negara-negara lain secara global. Krisis ini ditandai oleh contagion effect, yaitu efek domino yang dimulai dari baht Thailand lalu menyebabkan krisis kepercayaan dan nilai tukar di negara-negara Asia lainnya.

Ekonom Dani Rodrik (2019) dari Harvard's John F. Kennedy School of Government, AS menyebut krisis Asia 1997 disebabkan oleh hyper-globalisation dari investasi ke negara-negara Asia. Hal ini membuat harga saham di Asia, termasuk Indonesia meningkat 500%.



Simak Video "Video Purbaya Janji Bakal Perbaiki Kebijakan Fiskal-Moneter"


(ang/ang)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork