IHSG Rontok hingga Perdagangan Disetop, BEI Mau Temui MSCI

IHSG Rontok hingga Perdagangan Disetop, BEI Mau Temui MSCI

Andi Hidayat - detikFinance
Kamis, 29 Jan 2026 06:45 WIB
IHSG Rontok hingga Perdagangan Disetop, BEI Mau Temui MSCI
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dihentikan sementara atau trading halt usai melorot 8% pada perdagangan sesi II Rabu (28/1). Langkah ini diambil Bursa Efek Indonesia (BEI) saat pada pukul 13.43 WIB hingga 14.13 WIB.

Saat trading halt diberlakukan, IHSG melemah 8% ke level 8.261,78. Saat itu, volume perdagangan BEI mencapai 45,39 miliar dengan nilai transaksi Rp 31,92 triliun dan frekuensi saham yang diperdagangkan 2.956.033 kali.

"Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 8%," ungkap Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad dalam keterangan tertulis, Rabu (28/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

IHSG melemah menyusul pengumuman penyedia indeks saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait metodologi penghitungan free float, pembekuan rebalancing saham Indonesia bulan Februari, hingga penurunan peringkat pasar saham Indonesia.

Rencana BEI Temui MSCI

Terkait hal tersebut, BEI akan melanjutkan proses diskusi dengan MSCI. Hingga saat ini, BEI masih belum mengetahui apa yang dibutuhkan MSCI. BEI masih menyusun formula yang akan diajukan kepada MSCI sebelum Mei 2026.

ADVERTISEMENT

"Kita tidak tahu requirement dia apa, dan ini yang kita bisa serahkan, dikasih dalam waktu satu bulan sejak kita ketemu. Jadi, artinya ketemu, berikutnya tentu saja, kita sedang formulasikan apa yang bisa kita berikan. Nah, ini yang nanti diskusi, itu akan berjalan sampai dengan kita harapkan sebelum Mei," ungkap Direktur Utama BEI, Iman Rachman di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Rabu (28/1/2026).

Iman mengaku, apa yang telah diajukan BEI telah mencukupi kebutuhan transparansi free float saham emiten Indonesia. Namun ia menilai, pengumuman yang baru saja dirilis mengindikasikan ketidakpuasan MSCI.

"Kita merasa bahwa apa yang kami sampaikan mungkin cukup. Mereka merasa nggak cukup. Nah ini yang terus terang, diskusi itu akan terus berlangsung. Mudah-mudahan bisa berlangsung setelah pengumuman ini. Nah kita sedang minta waktu ya untuk berdiskusi dengan MSCI," imbuhnya.

BEI sebelumnya juga telah menemui pimpinan MSCI untuk membahas tentang perubahan metodologi penghitungan free float. Pertemuan tersebut digelar di New York, Amerika Serikat (AS) minggu lalu. Pertemuan itu dihadiri langsung oleh Direktur Utama BEI, Iman Rachman, dan sejumlah pimpinan MSCI.

Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan diskusi BEI dan MSCI berlangsung konstruktif. Ia menjelaskan, kriteria free float di bursa Indonesia jauh lebih ketat ketimbang negara lain.

Di pasar modal Indonesia, terang Jeffrey, kepemilikan saham sebesar 5% tidak dihitung sebagai free float. Sementara di bursa negara lain, 10% kepemilikan saham masuk sebagai free float.

"Kita juga tetap ingin mendengar kira-kira ekspektasi dari MSCI apa? Nah, misalnya kemudahan untuk melihat data dan lain-lain, apa yang bisa kita provide tentu akan kita usahakan untuk kita berikan untuk meningkatkan transparansi dan lain-lain," ungkap Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Rabu (17/12/2025).

Gonjang-Ganjing MSCI

MSCI menetapkan sejumlah perubahan indeks review bagi saham Indonesia pada Februari 2026. Pertama, pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).

Kedua, pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Ketiga, pembekuan perpindahan naik antar-indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.

Dalam pengumumannya, MSCI menyebut ketetapan ini dilakukan untuk mengurangi index turnover dan risiko kelayakan investasi (investability). Ketetapan ini juga sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar untuk menghadirkan perbaikan transparansi.

Jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, MSCI akan mengevaluasi kembali status akses pasar Indonesia. Langkah ini dilakukan dengan memperhatikan penurunan bobot dalam Indeks Pasar Emergen MSCI untuk semua sekuritas Indonesia dan potensi reklasifikasi Indonesia dari status Emerging Market ke Frontier Market.

Simak Video 'Dampak MSCI Terhadap Merahnya IHSG Hari Ini':

(ahi/ara)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads