Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bareskrim Polri menggeledah kantor PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia di kawasan SCBD, Jakarta, Rabu (4/3/2026). Penggeledahan itu dilakukan terkait praktik insider trading atau perdagangan berdasarkan informasi orang dalam dari Mirae Asset terhadap PT Berkah Beton Sadaya Tbk (BEBS) periode 2020-2022.
Penyidik Utama OJK, Daniel Bolly Hyronimus Tifaona, menjelaskan penggeledahan ini dilakukan untuk mencari alat bukti terkait praktik insider trading. Adapun praktik tersebut disebut melanggar Undang-Undang (UU) tentang Pasar Modal Pasal 104 juncto Pasal 90 subsidair Pasal 107.
"Perdagangan semu dan perdagangan orang dalam. Artinya membeli saham berdasarkan informasi dari orang dalam. Ini dalam pasar modal tidak boleh. Kita melakukan perdagangan semu, ini pun tidak boleh," ungkap Daniel kepada wartawan di kawasan SCBD, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam praktik tersebut, pihak afiliasi penerima penjatahan pasti dari alokasi dana Initial Public Offering (IPO) atau fixed allotment dari BEBS. Selain itu, terdapat dugaan penyampaian laporan penggunaan dana IPO BEBS yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Berdasarkan hasil penyidikan OJK, Mirae Asset juga diduga melakukan transaksi semu sebagaimana diatur dalam Pasal 104 juncto Pasal 91 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, berupa transaksi antar-pihak terafiliasi yang melibatkan 7 entitas perusahaan dan 58 entitas perorangan nominee.
Rangkaian transaksi tersebut diduga menyebabkan harga saham BEBS di pasar reguler meningkat secara signifikan hingga sekitar 7.150%. Kasus ini diduga melibatkan ASS selaku beneficial owner BEBS, MWK selaku mantan Direktur Investment Banking Mirae Asset Sekuritas, dan korporasi Mirae Asset Sekuritas.
Daniel menambahkan, OJK telah membekukan sebanyak 2 miliar saham yang diduga terkait dengan aktivitas perdagangan tersebut. Adapun nilai keuntungan ilegal dari aktivitas insider trading ini mencapai Rp 14,5 triliun.
"Nilainya total semua Rp 14,5 T. Rp 14,5 T itu dari saham-saham yang kami freeze. Itu sekitar ada 2 miliar lembar saham," imbuhnya.
(acd/acd)










































