×
Ad

Kolom

Risk Premium Channel, Disiplin Fiskal dan Depresiasi Rupiah

Muhamamd Syarkawi Rauf - detikFinance
Senin, 20 Apr 2026 14:35 WIB
Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) mencapai titik terendah sepanjang sejarah. Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp.17.156 per dollar AS pada 15 April 2026 (Trading Economics, 2026). Melampaui rekor terlemah sepanjang sejarah.

Kinerja mata uang rupiah lebih buruk dibandingkan tiga mata uang utama Asean, yaitu ringgit Malaysia, baht Thailand, dan dong Vietnam. Hingga akhir maret 2026, rupiah melemah 5,5% dibandingkan posisi terkuatnya dalam satu tahun terakhir. Sementara, ringgit Malaysia melemah 4,1%, baht Thailand 5,0% dan dong Vietnam 2,40%.

Nilai tukar rupiah undervalued, di bawah nilai wajar dan tidak sesuai kondisi fundamentalnya. Fenomena ini sejalan dengan pandangan ekonom International Monetary Fund (IMF), Lorenzo Giorgianni (1997) bahwa depresiasi ekstrim nilai tukar dapat dipengaruhi oleh kondisi fiskal yang buruk melalui kenaikan persepsi risiko terhadap suatu perekonomian yang tercermin pada risk premium yang tinggi.

Risk Premium Channel

Risk premium channel (jalur premi risiko) menjelaskan jalur pengaruh lemahnya disiplin fiskal terhadap nilai tukar melalui peningkatan persepsi risiko terhadap perekonomian suatu negara.

Pengalaman beberapa negara Eropa tahun 1992, nilai tukar lira Italia, franc Belgia dan krona Swedia mengalami depresiasi ekstrim karena premi risikonya sangat tinggi yang disebabkan oleh lemahnya disiplin fiskal. Hal ini tercermin pada debt to Gross Domestic Product (GDP) ratio yang tinggi, melampaui batas aman 60%.

Fenomena yang sama juga terjadi di Brazil tahun 2002, pada saat disiplin fiskal buruk yang tercermin pada debt to GDP ratio tinggi, rasio defisit fiskal terhadap GDP lebih besar 3,0%, keseimbangan primer negatif dan credit default swap (CDS) naik membuat nilai tukar real Brazil terdepresiasi ekstrim.

Depresiasi ekstrim real Brazil karena risk premium tinggi. Potensi gagal bayar utang luar negerinya naik. Tax revenue sebagai%tasi terhadap GDP tidak sesuai ekspektasi. Sehingga, bank sentral mengakomodasi defisit fiskal melalui pencetakan uang baru (money creation). Hingga situasi paling buruk terjadi, gagal bayar utang luar negeri.

Lembaga pemeringkat internasional yang menjadi patokan investor global menempatkan asetnya, Moody's, Fitch dan S&P menurunkan peringkat utang Brazil menjadi "highly speculative". Tingkat risiko gagal bayar utang meningkat signifikan yang tercermin pada CDS sebesar 3,75, tertinggi sepanjang sejarah (all-time high).

Meyakinkan Pasar

Fenomena yang sama terjadi di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Narasi state capitalism sangat dominan. Disiplin fiskal menurun yang tercermin pada debt to GDP ratio naik menjadi 40,46%. Rasio defisit fiskal terhadap GDP juga mendekati batas aman sesuai undang-undang (UU) sebesar 3,0%.

Debt service ratio (DSR) naik di atas batas aman 20% menjadi 47,67%. DSR mencerminkan kemampuan suatu negara membayar utang. DSR sebesar 47,67 menunjukkan bahwa hampir separuh pendapatan pemerintah Indonesia digunakan untuk membayar utang.



Simak Video "Video: Rupiah Babak Belur ke Level Rp 17.300 per Dolar AS"


(ang/ang)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork