Pedagang Mulai Waswas Dolar Makin Ngamuk, Untung Menipis

Pedagang Mulai Waswas Dolar Makin Ngamuk, Untung Menipis

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 18 Mei 2026 14:43 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan hingga menembus level psikologis Rp 17.500 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Angka tersebut menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah.
Foto: Gilang Faturahman/detikfoto
Jakarta -

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang kini sudah menembus Rp 17.600, mulai berdampak pada harga sejumlah komoditas di pasar, terutama produk yang masih mengandalkan impor seperti daging sapi dan kedelai. Hal ini membuat para pedagang semakin waswas.

Salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Senen, Fahmi, mengatakan sebagian besar sapi potong di pasar didatangkan dari Australia alias impor. Namun, karena sudah dibesarkan atau dipelihara selama satu hingga dua bulan di Indonesia, daging yang dihasilkan tetap disebut sebagai daging "lokal".

Karena ketergantungan pada impor sapi ini, kenaikan nilai dolar terhadap rupiah secara tidak langsung membuat harga beli sapi potong mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada akhirnya, kondisi ini mendorong harga daging sapi naik di tingkat pemasok (rumah potong), pedagang, hingga konsumen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Harga daging naik karena dari impornya naik kan, dolar naik katanya. Jadi mungkin pengaruhnya dari sana. Kalau dolar naik, harga ikut naik, soalnya beli sapinya juga sudah naik. Katanya sih begitu, saya kurang tahu detailnya, tapi dari rumah potong bilang begitu, dari impornya memang naik gara-gara itu," jelas Fahmi saat ditemui detikcom di Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Akibatnya, menurut Fahmi, harga daging sapi di pasar saat ini sudah sangat tinggi, yakni di kisaran Rp 150 ribu per kilogram, dari harga normal sekitar Rp 130 ribu per kilogram. Begitu juga dengan daging impor beku yang biasanya berada di kisaran Rp 110 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp 120.000-Rp 130.000 per kilogram.

ADVERTISEMENT

"Kalau daging lokal rata-rata Rp 150 ribu per kilogram, tapi bisa Rp 145 ribu kalau lagi turun, sampai Rp 160 ribu kalau naik. Impor beku sekarang Rp 120 ribu, bisa Rp 130 ribu, tergantung jenis dagingnya juga," ucapnya.

Tak heran, meski sehari-hari ia bertransaksi menggunakan rupiah, penguatan mata uang Paman Sam membuatnya semakin khawatir terhadap stabilitas harga ke depan. Sebab, hal ini sangat memengaruhi omzet dagangannya.

"Ya takut harga makin naik, kalau bisa turun lah. Kan ini sudah tinggi banget, biasanya Rp 130 ribu per kilogram, sekarang sudah Rp 150 ribu per kilogram. Kalau harga tinggi kan yang beli berkurang, biasanya langganan seperti tukang bakso dan tukang soto, beli beberapa kilogram jadi dikurangi. Mereka juga pada ngeluh," ujar Fahmi.

Hal senada juga disampaikan pedagang bawang dan tahu di Pasar Senen, Davi. Ia mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar secara tidak langsung sudah membuat harga tahu yang dijualnya ikut naik di tingkat pabrik.

Ia menjelaskan, kedelai sebagai bahan baku utama tahu masih mengandalkan impor, sehingga perubahan nilai tukar turut memengaruhi ongkos produksi.

"Harga kedelainya kan naik. Kalau tahu pakai kedelai impor. Jadi bisa jadi karena rupiah sama ongkos kirim kedelainya lagi naik. Mungkin rentetannya begitu, ongkos produksi jadi besar, harga di pasar ikut naik," ujar Davi.

Lebih lanjut, ia mengatakan kenaikan harga kedelai impor sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Namun saat itu, kenaikan harga bahan baku masih ditahan oleh produsen sehingga harga jual tahu di tingkat pedagang belum berubah.

"Harga tahu sudah mulai naik sejak seminggu lalu. Tadinya dari pabrik belum dinaikkan, sekarang mungkin sudah mulai nggak kuat juga mereka. Jadi naik Rp 100-Rp 200 per potong. Di sini jual potongan sedang Rp 4.000, yang besar Rp 5.000. Itu pun harganya belum saya naikkan, kita tahan dulu, kurangi untung sedikit," terangnya.

Atas kondisi ini, Davi mengaku cukup waswas terhadap pelemahan rupiah. Ia khawatir harga kedelai impor akan semakin mahal, yang pada akhirnya mendorong harga tahu ikut naik. Padahal, saat harga tinggi, pelanggan cenderung mengurangi pembelian.

"Pasti ada waswasnya, kalau harga naik kan yang beli berkurang, jadi agak sepi. Karena daya belinya turun. Tadi saja ada yang tanya harga, tapi nggak jadi beli," tutur Davi.

Di sisi lain, Davi yang sehari-hari juga berjualan bawang turut waswas terhadap dampak kenaikan dolar terhadap harga bawang putih ke depan. Pasalnya, bawang putih di pasaran saat ini sepenuhnya masih bergantung pada impor, khususnya dari China.

"Kalau bawang merah itu produksi lokal, tapi bawang putih pasti impor. Biasanya dari China, kebanyakan

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads